Home Hukum dan Kriminal Kasus Pemukulan Kru BRT Dinilai Berlebihan

Kasus Pemukulan Kru BRT Dinilai Berlebihan

Semarang, 31/7 (BeritaJateng.net) – Apa yang dilaporkan oleh S Budiyono (53) warga Ungaran yang mengaku dipukul oleh awak BRT Trans Semarang ke Polrestabes dinilai berlebihan dan sepihak. Korban juga dinilai membuat cerita yang tidak sebenarnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Operator BRT Trans Semarang Koridor I Tutuk Kurniawan. Menurut Tutuk, bukannya membela operator koridor lainnya seperti yang dilaporkan, namun kejadian yang dilaporkan itu ia yakin tidak seperti yang dilaporkan ke polisi.

“Korban melaporkan awak BRT karena dipukul, dan katanya kaki terjepit pintu dan dipaksa turun karena bus mengalami kerusakkan, saya yakin itu tidak benar,” tandas Tutuk.

Menurutnya, dalam management pengelolaan BRT Trans Semarang dimasing-masing koridor mempunyai perusahaan masing-masing, dan pengelolaan ada dua instansi yakni operator dan pegawai BLU (Badan Layanan Umum) dari Dishub Kota Semarang.

“Lha kalau yang dilaporkan itu operator atau awak bus, saya yakin tidak mungkin seorang awak bus memukul penumpang. Karena operator bus itu hanya kendaraan dan sopir. Karena operator tidak boleh mengambil tiket, maka pihak dari Dishub dalam hal ini BLU yang bertugas tiketing, pencatat rit, penjaga shelter dan lain-lain,” terang Tutuk.

Lebih lanjut Tutuk juga tidak yakin kalau penumpang tiba-tiba disuruh turun karena bus mengalami kerusakkan, yang terjadi sebenarnya menurut Tutuk bahwa bus saat itu dalam kondisi full sehingga penumpang diminta untuk naik di bus berikutnya.

“Jadi kalau katanya kerusakkan mesin itu juga tidak mungkin karena bus selalu dicek kondisinya, rem nya, rodanya, mesinnya. Yang saya terima infonya dari temen-temen koridor yang dilaporkan itu, yang terjadi adalah pada saat itu kondisi bus full dan yang bersangkutan disuruh naik di bus berikutnya, tapi bus berikutnya juga full sampai bus keempat. Karena emposi dia (korban.red) marah-marah sampai menggebrak kaca halte, kemudian ditegur, dia tambah marah dan akhirnya dipukul oleh karyawan BLU, jadi bukan awak BRT yang memukul,” terangnya lagi.

Kejadiannya pun lanjut Tutuk, bukan di atas bus tapi di halte, jadi kalau ada kaki kejepit pintu, itu juga cerita yang mengada-ngada, karena pintu otomatis bus itu dirancang seperti lift, jadi tidak mungkin menjepit kaki.
www.quaintonhall.org.uk/wp-content/languages/new/education-websites.html

“Saya menilai ini (laporan.red) sesuatu yang berlebihan dan sepihak. Mari kita duduk bareng supaya jelas kejadian yang sebenarnya, bukan langsung melaporkan ke polisi dengan cerita yang sepihak,” pinta Tutuk.

Seperti diberitakan sebelumnya, salah seorang penumpang Bus Rapit Transit (BRT) Trans Semarang Koridor II rute Terboyo – Sisemut, melaporkan awak BRT ke Polisi lantaran mengaku telah dipukuli.

Kepada polisi korban menceritakan kronologis insiden ini berawal saat korban bersama istri yakni Hartini dan keponakannya bernama Sri Welas berniat menuju ke Kaligawe Semarang. Berangkat dari Ungaran, mereka menaiki BRT jurusan Ungaran – Terboyo.
www.quaintonhall.org.uk/wp-content/languages/new/buy-nothing-day-essay.html

“Namun, sampai di halte Ngesrep, semua penumpang tiba-tiba disuruh untuk turun.
www.quaintonhall.org.uk/wp-content/languages/new/best-custom-essay-writing-service.html

Karena bus katanya mengalami kerusakan,” terang korban saat memberikan keterangan kepada petugas SPKT Polrestabes Semarang, Sabtu (30/7).

Setelah sempat diturunkan paksa, mereka kembali menaiki bus Trans berikutnya. Namun, untuk kedua kalinya, korban Budiyono dan istri serta keponakannya menerima perlakuan yang sama. Ketika sudah berada di dalam bus, korban dipaksa kondektur untuk turun, dengan alasan kondisi di dalam bus penuh penumpang.

“Saat saya mau turun, belum sepenuhnya keluar, pintu sudah menutup. Karena terjepit saya teriak dan menggedor kaca pintu. Tak lama setelah itu, bagian wajah saya malah dipukul oleh salah satu awak bus,” kisahnya.

Sontak, insiden itu membuat suasana sempat tegang dan menjadi pusat perhatian penumpang lain. Beruntung, awak bus lain langsung melerai. Sehingga, aksi pemukulan tak sampai berlanjut. Sementara, kasus tersebut hingga kini masih dalam penanganan tim penyidik Polrestabes Semarang. (Bjt02)