Home DPRD Kota Semarang Karaoke Berdiri Diantara Sekolah Islam dan Masjid di Semarang di Protes

Karaoke Berdiri Diantara Sekolah Islam dan Masjid di Semarang di Protes

Karaoke Diantara Sekolah Islam dan Masjid di Semarang di Protes.

Semarang, 3/6 (BeritaJateng.net) – Keberadaan sebuah tempat karaoke di Semarang yang letaknya bersebelahan dan berhadapan dengan sekolah diprotes karena dikhawatirkan berdampak negatif bagi para siswa.

Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi bersama sejumlah legislator, yakni Danur Rispriyanto (Komisi B) dan Agus Riyanto Slamet (Komisi C) mendatangi karaoke di Jalan Kiai Saleh Semarang itu.

Dalam inspeksi mendadak itu, rombongan legislatif hanya mendapati beberapa karyawan, sementara pimpinan atau pengelola karaoke tidak ada di tempat karena karaoke tersebut baru buka pada sore hari.

“Kami minta Pemerintah Kota Semarang meninjau ulang perizinan tempat karaoke ini, kalau memang sudah muncul perizinan. Kalau belum (berizin, red.), satpol pamong praja harus menindak,” kata Supriyadi.

Politikus PDI Perjuangan itu mempertanyakan perizinan HO (Hinder Ordonantie) atau surat izin gangguan karena prosesnya harus mendapatkan persetujuan dari masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

“Makanya, kami minta karaoke ini dicek perizinannya. Kalau ternyata belum ada izinnya, ya, wajib ditutup. Dikhawatirkan, keberadaan karaoke ini berdampak buruk terhadap siswa sekolah di sekitar,” katanya.

Namun, Supriyadi mengatakan jika ternyata karaoke tersebut sudah mengantongi perizinan berarti Pemkot Semarang kecolongan karena ada sekolah di samping dan depan, serta bersebelahan masjid.

Pada sidak itu, rombongan legislatif juga menyempatkan berdialog dengan pengelola SDIT Bina Amal Semarang yang berada di samping sekolah dan TK-SD-SMP Kristen Gergaji, Semarang, di depan karaoke itu.

Wakil Kepala SDIT Bina Amal Semarang Eko Mulyanto mengakui selama ini tidak pernah dimintai izin oleh pemilih bangunan di samping sekolah itu yang ternyata memfungsikannya sebagai tempat karaoke.

“Pendirian bangunan itu, mau difungsikan untuk apa, dan sebagainya, tidak meminta izin pihak-pihak di sini. Ternyata, sekarang dijadikan karaoke. Kami khawatir berdampak pada anak-anak,” katanya.

Dengan keberadaan karaoke itu, kata dia, anak-anak sekolah akan melihat dan merasakan sesuatu yang mungkin belum saatnya bagi seusia mereka sehingga dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap mereka.

Sementara itu, Agus Riyanto Slamet yang juga pengurus Yayasan Bina Amal Semarang mengaku keberatan dengan keberadaan karaoke yang dibangun persis di samping sekolah yang juga terdapat masjid.

“Masjid di sekolah itu diperuntukkan bagi umum. Jadi, di luar jam sekolah tetap digunakan beraktivitas keagamaan. Kami minta Pemkot bisa tegas. Selama ini, pemilik juga belum pernah minta izin,” katanya.

Dalam waktu dekat, Yayasan Bina Amal berencana mengirimkan surat keberatan atas keberadaan karaoke tersebut yang ditujukan kepada Pemkot Semarang, DPRD Kota Semarang, dan Dinas Pendidikan setempat. (Bj05)