Home News Update Kampus Harus Lebih Dekat Dengan Masyarakat

Kampus Harus Lebih Dekat Dengan Masyarakat

image

Semarang, 25/5 (Beritajateng.net)-Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo menggelar Training of Facilitator Dialog Warga untuk Penguatan Hak Asasi Perempuan di Aula Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Kampus I (25/5). Kegiatan ini dihadiri oleh calon fasilitator yang berasal dari dosen UIN dan melibatkan warga mitra dampingan dari Desa Tampingan Kecamatan Boja Kabupaten Kendal yang berasal dari dusun Grajegan dan Pandansari.

Narasumber yang melatih para calon fasilitator ini adalah Rahayu Purwaningsih (SPEK HAM) dan Muhammad Fauzi (PSGA UIN Walisongo).

Rektor UIN, Prof Dr H Muhibbin MAg menyampaikan bahwa pengabdian masyarakat perlu dikaji secara baik karena menjadi bagian dari tridharma perguruan tinggi, pola pengabdian masyarakat ke depan juga perlu diarahkan menjadi pemberdayaan masyarakat. “Sehingga, model dialog warga ini menjadi penguatan potensi masyarakat agar sukses dalam menjalankan hak asasi perempuan agar tidak terabaikan,” tegas Muhibbin.

Kampus, lanjutnya, perlu banyak bekerjasama dengan masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan akademiknya agar menyatu dengan kebutuhan masyarakat. “Saya pikir metode ini prinsip-prinsipnya sejalan dengan misi UIN Walisongo” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua LP2M, Dr H Sholihan MAg menyampaikan bahwa ToF ini merupakan kelanjutan dari training pertama yang telah mengenalkan tentang metode dialog warga. “Kali ini Tof diselenggarakan sebagai pembekalan untuk siap menjadi fasilitator dalam mengimplementasikan metode dialog warga” kata Sholihan.

ToF ini merupakan pengembangan metode yang diinisiasi bersama SWR-JIZ Jerman dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. “UIN Walisongo merupakan salah satu dari empat lokasi pilot project di Indonesia untuk pelaksanaan kegiatan dialog warga ini” pungkasnya.

Kepala Pusat PSGA, Hj Jauharotul Farida MAg yang juga sebagai tim penyusun modul dialog warga menjelaskan bahwa penguatan  hak asasi perempuan sangat perlu mengingat masih lemahnya nilai tawar, sehingga hak-haknya sering terabaikan. Dan dengan metode ini dapat menjadi alternatif yang dapat mencairkan kebekuan karena  dengan pendekatan vibran dan apreciate inquiry yang lebih menghargai nilai humanisme, partisipatori, dan demokrasi serta penggalian kekuatan komunitas teruji dapat menyelesaikan isu sosial yang ada.(BJ)

Advertisements