Home Lintas Jateng Jumlah PKL Direlokasi Membengkak

Jumlah PKL Direlokasi Membengkak

ilustrasi PKL
ilustrasi PKL

Solo, 2/12 (BeritaJateng.Net) – Jumlah pedagang kaki lima di tiga ruas jalan utama di Kota Surakarta yang hendak direlokasi membengkak dari 315 orang menjadi 486 orang, kata Kepala Bidang Pengelola PKL Dinas Pengelola Pasar Pemerintah Kota Solo Hery Mulyono.

“PKL di tiga ruas jalan tersebut ketika didata hanya 315 orang tetapi sekarang membengkak menjadi 486 orang,” katanya di Solo, Selasa.

Mereka selama ini menempati tepi ruas Jalan Sabang, Jalan S. Parman, dan Jalan A. Yani, akan direlokasi ke Pasar Gilingan Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Pihaknya hingga saat ini masih memvalidasi data mengenai jumlah pedagang yang akan direlokasi. Validasi telah dilakukan sejak minggu kedua November 2014 yang hasilnya sama dengan validasi pada Senin (1/12).

Dia mengatakan hasil validasi itu menunjukkan bahwa sebagian besar PKL berasal dari luar Kota Solo. Mereka, antara lain berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Salatiga (Jateng), dan Jombang (Jawa Timur).

Mereka akan direlokasi ke Pasar Gilingan Kecamatan Banjarsari dengan lokasi yang disiapkan, terdiri atas 241 kios, 40 los bawah, dan 40 los atas.

“Nanti akan ada kebijakan yang diperuntukkan bagi para PKL. Tapi saya tidak bisa menjawab karena bukan kapasitas saya,” katanya.

Hery menjelaskan Pemkot Surakarta menerapkan zonasi berdasarkan jenis dagangan, sedangkan DPP akan mengundang pedagang untuk mengambil nomor undian yang berisi jatah los dan kiosnya.

“Meski kami sudah memiliki data, namun para PKL harus membawa identitas diri. Yakni Kartu Tanda Penduduk Pedagang (KTP-P), KTP, dan Kartu Keluarga (KK),” katanya.

Kepala DPP Pemkot Surakarta Subagiyo mengatakan jumlah PKL di tiga ruas jalan tersebut tercatat 315 orang, yakni di Jalan S. Parman berjumlah 107 orang, Jalan Sabang 175 orang, dan di Jalan A. Yani 33 orang.

Terkait dengan jumlah PKL yang melebihi kios dan los di Pasar Banjarsari, Bagiyo menyatakan siap melakukan rasionalisasi karena selama ini ada satu PKL yang memiliki lebih dari satu lapak, bahkan hingga lima tempat berdagang.

“Dari lima kios dirasionalisasi menjadi tiga kios. Itu misalnya saja. Yang jelas, kami tetap melakukan komunikasi kepada para PKL,” katanya. (ant/pri)