Home Ekbis Jika Pindah Ditempat Baru, Pedagang Ikan Rejomulyo Rugi Hingga Rp 2 Miliyar...

Jika Pindah Ditempat Baru, Pedagang Ikan Rejomulyo Rugi Hingga Rp 2 Miliyar Permalam

Kondisi pasar ikan Rejomulyo (Pasar Kobong) yang ramai dengan aktifitas jual beli hasil laut.

SEMARANG, 20/1 (BeritaJateng.net) – Pedagang ikan basah Rejomulyo meminta Walikota Semarang untuk datang langsung melihat sendiri kondisi terkini Pasar Rejomulyo lama. Terutama tempat pedagang ikan basah dan beberapa akses yang perlu dipantau seperti lahan parkir, luasan kios, dan akses masuk kendaraan.

Pengurus Paguyuban Pedagang Ikan Basah dan Pindan (PPIB) Pasar Rejomulyo Mujiburrohman menyampaikan jika kondisi Pasar Rejomulyo lama kondisinya tidak memungkinkan untuk dipindah secepatnya, apalagi dengan tenggang batas waktu sampai 31 Januari oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang. Mengingat kondisi pasar lama dengan kegiatan yang begitu ramai dan sibuk jika sudah masuk jam transaksi jual beli ikan pada malam hari.

“Apalagi dengan kondisi bangunan Pasar Rejomulyo baru, baik akses, ukuran kios, dan sarana tempat lainnya masih minim bahkan tak sesuai dengan kondisi saat ini,” katanya.

Pihaknya menilai jika bangunan Pasar Rejomulyo baru tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pedagang. Seperti ukuran kios yang lebih kecil hanya 20 meterpersegi padahal di pasar lama bervariasi ada yang 50 meter, 100 sampai 150 tergantung banyaknya jumlah ikan.

Sedari awal pihaknya mengatakan tidak pernah diajak komunikasi terkait desain pembangunan Pasar Rejomulyo Baru, hanya saja saat pembangunan baru selesai 80 persen para pedagang ikan basah dikirimi surat, saat itu masih Dinas Pasar, untuk update data pedagang karena akan dipindah. Ia menilai pemkot lalai dengan perda yang mengharuskan melibatkan pedagang jika akan dipindah atau dibuatkan pasar baru.

“Kita tidak menolak untuk pindah sesusi kebijakan pemkot Semarang, namun kita minta bangunan Pasar Rejomulyo Baru untuk diperbaiki sesuai kebutuhan dan keinginan para pedagang. Untuk apa membangun pasar yang mewah tapi tak bisa digunakan sesuai fungsinya,” katanya.

Apalagi Pasar Rejomulyo menurutnya sudah menjadi ikon nasional sebagai salah satu pasar grosir ikan basah di Indonesia mengalahkan Lamongan dan Muara Angke. Di dua tempat itu, kios pedagang hanya berfasiloitas atap kanopi dan lantai yang luas sehingga pedagang nyaman.

“Bayangkan saja semalam ada 350-300 armada kita yang loading tiap malam, dengan bergantian setiap jamnya sampai 40 mobil, jika dipindah di pasar baru itu tak mungkin karena luasan yang sempit hanya bisa muat lima mobil saja, itu bisa loading dua hari jika dipaksakan pindah. Ikan kita akan busuk terus pembeli pasti akan pindah ke pasar lainnya, kita bisa rugi semalam Rp 2 miliyar,” ujarnya.

Pihaknya juga nelihat penempatan pedagang lainnya yakni para pedagang ikan asin yang dilantai tiga juga akan terdampak lantaran tak bisa loading untuk naik padahal sekali loading menggunakan truk tronton. “Itu tronton apa bisa naik, kasihan pedagan ikan asin mau ditaruh dimana dagangannya. Kalau ditumpuk juga akan hancur,” tambahnya.

Ia menaksir perpindahan juga akan memakan waktu yang tak sedikit, bisa sampai satu atau dua bulan karena harus mempersiapkan fasilitas seperti drainase, tempat lelang ikan terbuka, boks es, tempat drum dan lainnya.

Sementara kata Mujiburrohman, di pasar baru sangat sekali minim drainase hanya  diberikan persedian air seperti kamar mandi padahal ikan basah sangat dekat dengan kebutuhan air, tiap malam di pasar lama minimal kebutuhan air 200 kubik air. “Seperti ikan lele, itu sangat butuh air banyak karena harus terus berganti air karena dijual dalam keadaan hidup,” tambahnya.

Pihaknya juga mempersoalkan dasaran lantai yang ada di pasar baru yang menggunakan lantai keramik, kondisi ini sangat membahayakan saat transaksi karena akan banyak air dan lendir ikan yang jatuh dilantai. Ia berharap Dinas Perdagangan bisa menggantinya dengan lantai yang lebih kasar seperti plestes biasa.

“Pasar ikan basah tidak bisa disamakan dengan pasar lainnya, tiap ikan yang datang harus disuntak (digelar) semua, di pasar lama kita pakai plestes saja masih terpeleset apalagi lantai keramik, ini sangat membuat tak aman dan membahayakan penjual dan pembeli,” tukasnya.

Disampaikannya, saat ini sudah ada tanda-tanda para pembeli grosir sudah mulai berpindah pasar dikarenakan mendengar kabar akan dipindahnya pasar Rejomulyo lama ke bangunan baru. beberapa pembeli sudah banyak yang lari seperti ke pasar ikan Sayung, Lamongan dan lainnya.

“Ya karena pembeli mendengar akan dipindah, sehingga takut mengganggu kecepatan kebutuhan ikan mereka, ada yang ke Sayung dan Lamongan,” katanya.

Pihaknya kini meminta Walikota Semarang Hendrar Prihadi untuk memahami kondisi tersebut, berharap bisa langsung datang dan melihat saat malah hari bagaimana keadaan kesibukan disana.

“Kami minta skema penempatan seperti apa? perlu verifikasi dimana tempat, berapa jumlah lapak, takutnya ada pedagang liar masuk. Jumlah kami ada 66 pedagang ikan basah. Selama 36 tahun kita swadaya sendiri padahal kita juga bayar retribusi,” tuturnya

Sementara, Tim advokasi Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang, Zaenal Abidin Petir Zaenal Abidin Petir juga meminta Walikota Semarang Hendrar Prihadi untuk melihat langsung kondisi transaksi di malam hari.

“Saya juga meminta teman-teman pedagang ikan basah untuk konsultasi dan komunikasi dengan Walikota, saya yakin Walikota akan bijaksana menyikapi. Apalagi jika sudah ikut turun melihat langsung riil di lapangan,” katanya saat dihubungi Jateng Pos, kemarin.

Zaenal juga menilai, pedagang ikan basah tidak bisa dipaksakan untuk saegera berpindah, ia meyakini pedagang akan merugi dan pasti mati bisnisnya karena tidak maksimalnya berjualan dengan kondisi tempat yang sempit di pasar Rejomulyo baru.

“Idealntya minimal luasan 60 meter pesegi untuk ikan basah, saat ini kalau dipaksakan luasan hanya 30 meter pesegi pasti akan tak maksimal dan merugi lalu mati. Untuk ikan asin saja luasan bisa sampai 100 meterpesegi, padahal ikan basah kuantitasnya bisa lima kali lipat ikan asin,” paparnya. (El)

Advertisements