Home Life Style Jangan Ngaku Semarang Kalau Tidak Tahu Gilo-gilo

Jangan Ngaku Semarang Kalau Tidak Tahu Gilo-gilo

4704
Aneka macam jajan yang di jual di gerobak Gilo-gilo
Aneka macam jajan yang di jual di gerobak Gilo-gilo

Semarang, 27/4 (BeritaJateng.net) – Jika anda orang Semarang, pasti tidak asing dengan jajanan ‘Gilo-gilo’, ya.. Gilo-gilo merupakan gerobak dorong dengan dagangan berisi aneka ragam makanan dan buah-buahan yang dijual keliling kampung di kawasan Semarang.

Ternyata, sebelum berubah menjadi gerobak dorong seperti sekarang, gilo-gilo mengalami metamorphosis bentuk yang beragam.

Simak nih sejarah Gilo-gilo, jajanan asli Semarang yang sempat populer pada masanya.

Gilo-gilo ada sejak tahun 60-an, siapa sangka nama gilo-gilo awalnya adalah Terik’an, sego wak atau sego iwak atau dalam bahasa Indonesia adalah nasi ikan. Namun bergulirnya waktu, karena cara menawarkan para pedagang yang berkeliling sembari menyebut kalimat, “Gi lo gi lo gi lo jajane teko” dan lama kelamaan masyarakat yang mendengar menamai dagangan tersebut dengan nama Gilo-gilo.

Sebelum berbentuk gerobak dorong seperti saat ini, dagangan Gilo-gilo di jajakan secara keliling dengan di pikul. Perubahan dari pikulan ke gerobak dorong dimulai pada tahun 1985, mayarakat mulai mencari cara praktis dan efisien untuk memuat dagangan lebih banyak dan tidak terlalu berat.

Bicara Gilo-gilo, Kampung Kulitan, Semarang merupakan kampung cikal bakal berdirinya dagangan ini di semarang, kampung yang terletak di Jalan MT. Haryono Semarang ini menelurkan sejarah Gilo-gilo, gerobak dagangan khas semarang.

Kuslan (65) salah seorang pedagang yang telah berjualan sejak tahun 90an ini mengatakan, dahulu setiap malam banyak hiburan di daerah Semarang, tiap minggu terjadwal aneka hiburan yang diselenggarakan berkala seperti wayang, ketoprak, dangdut, layar tancap dan bioskop.

“Pedagang Gilo-gilo biasanya berangkat pukul enam sore dan pulang pukul satu dini hari, dengan banyaknya acara-acara seni dan pertunjukan membuat dagangan gilo-gilo laris manis setiap harinya,” jelasnya.

Karena usaha Gilo-gilo merupakan usaha sederhana yang dapat dibuat hanya dengan bermodalkan 200ribu rupiah saja, sehingga pada tahun 1998 banyak penduduk sekitar dan pendatang dari luar kota beralih profesi berjualan Gilo-gilo. Pada tahun yang sama pedagang Gilo-gilo dikawasan tersebut mencapai lebih dari 100 pedagang.

“Sekarang dikampung tersebut (Kampung Kulitan, Red.) tinggal 30-an pedagang gilo-gilo yang masih setia dengan profesinya,” tuturnya.

Sedangkan, lanjutnya, pedagang lain yang kebanyakan berjualan gilo-gilo, justru dari wilayah sekitar,  seperti Purwosari, Tambak Dalem, Bugangan, Karanganyar yang rata-rata pendatang dari berbagai daerah Brayat, klaten, pemalang dan kota lain.

Sementara itu, Generasi ke tiga pedagang Gilo-gilo di kampung Gandikan Jalan Gajahmada yang bernama Widodo ini mengaku melanjutkan usaha Gilo-gilo sejak kecil, dari Kakek, ayah dan sekarang dirinya.

“Dagangan Gilo-gilo dulu tidak selengkap sekarang, dulu dagangan yang dijual hanya bungkusan nasi lauk atau kalau sekarang dikenal dengan nasi kucing, makanan kecil dan buah,” katanya.

Ia menambahkan, makanan kecil juga tidak seperti sekarang yang kesannya modern. “Zaman dulu jajan yang di jajakan hanya wajik, gemblong, sate kiong, mendoan, pisang goreng dan warneng (jagung yang digoreng). Sedangkan buah yang di jajakan hanya bengkuang, papaya dan semangka, itu pun dengan harga Rp. 25 perbiji.

“Sekarang apa-apa mahal, ya jadinya  jajan yang dijual dengan kisaran harga Rp. 600 sampai Rp. 2ribu perbiji,” lanjut Widodo.

Meskipun keuntungan yang didapatkan kecil, namun Widodo tetap setia pada profesi ini. “Setiap hari penghasilan yang saya dapatkan mencapai Rp. 300 ribu perhari, itu pun kalau dagangan habis. Meskipun demikian saya tetap bangga mempertahankan tradisi Gilo-gilo ini,” tutupnya. (Bj05)