Home Hukum dan Kriminal Jaksa Tolak Eksepsi Terdakwa Penipuan Rp 5,1 M

Jaksa Tolak Eksepsi Terdakwa Penipuan Rp 5,1 M

Solo, 23/12 (Beritajateng.net)  – Jaksa penuntut umum menolak eksepsi terdakwa dan memohon kepada majelis hakim untuk melanjutkan putusan sela pada sidang kasus penipuan dan penggelapan uang senilai Rp5,1 miliar di Pengadilan Negeri Solo, Selasa.

Sidang kasus penipuan dan penggelapan dengan terdakwa pasangan suami istri Mardiyanto (50) dan Sri Mulyani (48) warga Karanglo RT 003/RW 008 Madegondo Grogol Sukoharjo tersebut dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Teguh Haryanto, dibantu anggota Subur S. Satyo, Puji Hendro Suroso dengan agenda menanggapi eksepsi penasihat hukum terdakwa.

Jaksa Penuntut Umum, Ana May Diana, dalam tanggapannya mengatakan bahwa pihaknya tetap sama sesuai surat dakwaannya, No.Reg.Perkara:PDM-174/SKT I/Epp.2/11/2014, tertanggal 28 November 2014, dengan pasal berlapis tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap terdakwa Sri Mulyani dan Mardiyanto.

Menurut dia, surat dakwaannya sudah dinilai jelas dan cermat, karena disusun dengan secara berlapis dengan hasil penyelidikan berdasarkan keterangan saksi dan sejumlah barang bukti yang ada.

“Kita akan membuktikan dan menggali fakta hukum dalam persidangan selanjutnya,” katanya saat menanggapi eksepsi penasihat hukum terdakwa yang menyatakan dakwaan jaksa dinilai kabur dan tidak jelas.

Menurut dia, jaksa tetap pada pendiriannya dalam surat dakwaan terhadap terdakwa pasutri tersebut dengan pasal berlapis yakni pertama, Pasal 378 jo Pasal 55 Jo Pasal 64 KUHP, dan kedua Pasal 372 Jo Pasal 55 Jo Pasal 64 KUHP, tentang Penipuan dan Penggelapan.

Menurut jaksa bahwa terdakwa pasutri didakwa melakukan perbuatan pidana penipuan atau penggelapan, fakta hukum terungkap di dalam berkas perkara berdasarkan keterangan terdakwa dan saksi Siti Maryati (korban), serta pihak Bank BCA Cabang Solo.

Pada intinya, kata dia, terdakwa pasutri menyerahkan sejumlah bilyet giro yang semuanya tidak ada danannya atau ditolak oleh bank dengan alasan saldo rekening giro atau khusus tidak cukup kepada Siti Mayati, dimana terdakwa mengetahui di dalam bilyet giro itu, dananya tidak cukup.

“Hal ini, sangat tepat jika perbuatan terdakwa murni perbuatan pidana yang selanjutnya akan dibuktikan di dalam persidangan, dan bukan merupakan perbuatan perdata seperti dalam eksepsi terdakwa,” katanya.

Oleh karena itu, jaksa penuntut umum menyatakan menolak eksepsi penasihat hukum terdakwa dan memohon majelis hakim untuk menjathkan putusan sela untuk melanjutkan pemeriksa perkara atas nama terdakwa I Sri Mulyani dan II Mardyanto dan memerintahkan jaksa untuk menghadirkan saksi.

Ketua majelis hakim Teguh Haryanto kemudian akan melanjutkan disadang penipuan dan penggelapan tersebut di PN Surakarta, pada Selasa (30/12) dengan agenda putusan sela.

Pansihat hukum terdakwa R Bagus Anang Widjaya yang mendapingi terdakwa pasutri selama persidangan mengatakan bahwa dirinya tetap pada pendirian (nya bahwa kasus pada klienya merupakan perdata bukan pidana.

“Kami akna buktikan fakta persidangan bahwa kliennya itu, kasus perdana atau utang piutang,” kata Bagus Anang Widjaya usai sidang. (ant/bj)