Home Hiburan Jadi Wisata Alternatif Ngargoyoso Berdayakan Masyarakat Lokal

Jadi Wisata Alternatif Ngargoyoso Berdayakan Masyarakat Lokal

1186
Hamparan kebun teh hijau di Kemuning.

Karanganyar, 16/5 (BeritaJateng.net) – Pergeseran pilihan lokasi wisata yan semula bertumpu di kawasan Tawangmangu dan beralih ke wilayah Ngargoyoso dan Jenawi disambut baik oleh masyarakat dan pemangku di  wilayah tersebut.

Hal itu terbukti dengan menjamurnya tempat wisata baru disekitar lereng gunung Lawu yang mulai ‘bersolek’. Seperti air terjun Jumog, parang ijo, kebun teh kemuning,  air terjun ringin jenggot di Jenawi yang berdampingan dengan dua icon wisata yang mendunia yakni candi Sukuh dan candi Cetho.

Selain itu berdirinya resto baru dan puluhan warung kaki lima disepanjang wilayah Ngargooso adalah bukti nyata berkembangnya pariwisata diseputar kecamatan  Ngargoyoso.

Kepala Desa Kemuning, Widadi Nur Widyoko, menjelaskan pihaknya menyambut baik limpahan wisatawan yang dari Tawangmangu. Dengan begitu mampu menghidupkan perekonomian masyarakat.

“Salah satunya dengan pemberdayaan UKM warga yang bisa dijual untuk wisatawan seperti produk teh. Karena Kemuning merupakan kampung teh,” jelasnya Senin (16/5/2016).

Selain itu warga juga bisa membuka usaha kuliner disepanjang wilayah jalan yang dulunya sepi, namun peningkatan kunjungan wisatawan bisa mendongkrak perekonomian warga  Ngargoyoso.

“Pemerintah juga sudah menganggarkan dana Rp. 30 miliar untuk memperbaiki infrastruktur jalan Karangpandan -Ngargoyoso-Kerjo. Akses jalan bagus akan meningkatkan kunjungan wisatawan. Imbasnya perekonomian warga juga ikut terbantu,” terangnya.

Widadi juga menyampaikan pemberdayaan ekonomi  masyarakat juga membaik. Mereka jadi lebih mudah memasarkan hasil produksinya baik sayuran, kerajinan hingga kuliner khasnya.

Bahkan se kelompok anak muda di desa Gadungan, Girilayu mampu membidik wisatawan dengan memanfaatkan potenso alam yang masih alami dengan membuka wisata air.

Wisata alam alternatif yang mulai digandrungi wisatawan adalah menikati serunya bermain di arus sungai yang mengalir jernih dengan arung jeram, flyng fox, hacking, river climbing (mendaki tebing sungai/air terjun).

Sekumpulan anak-anak muda desa, dengan dimotori oleh Rian atau biasa di panggil Gembel dan dua orang lainnya mencoba memberdayakan masyarakat desanya tersebut untuk meningkatkan pendapatan warga sekitar dengan memanfaatkan potensi yang ada.

“Hasilnya Senatah Adventure ini. Dimana awal berdirinya menggunakan modal peralatan pinjaman dari berbagai kawan pecinta alam yang tersebar di berbagai daerah,” jelas Rian.

Untuk memasyarakatkan olahraga air berjuluk tubing, ungkap Gembel, bukan hal mudah. Tubing ini menggunakan ban dari bagian dalam truk FUSO yang dimodifikasi. Di tengah-tengahnya dilengkapi dengan tali pengaman untuk pegangan dan dudukan untuk pantat.

Pengunjung menikmati arungjeram
Pengunjung menikmati arungjeram

“Jika arung jeram atau rafting pada umumnya menggunakan perahu karet dan dayung. Sedangkan pada tubing, peralatan yang digunakan adalah ban yang dimodifikasi dan hanya diisi satu orang satu ban,” paparnya.

Tarif yang di patok Senatah Adventure cukup murah. Pengelola mematok harga Rp20 ribu untuk paket tubing sepanjang kurang lebih 800 meter. Climbing   sebesar Rp15 ribu, fliying fox hanya Rp15 ribu. Sedangkan paket hacking  susur sungai, Rp30 ribu per orangnya.

Sampai saat ini sudah hampir empat tahun Senatah Adventure berdiri dan mampu menghidupkan perekonomian masyarakat di sekitarnya. Wisatawan bisa berbelanja sayur segar di lahan warga dan juga rumah makan di sekitar lokasi. (bj24)

Advertisements