Home Headline Ita Minta Petugas BRT yang Lakukan Pemukulan Dipecat

Ita Minta Petugas BRT yang Lakukan Pemukulan Dipecat

Wakil walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mendatangi kantor BRT Trans Semarang terkait pemukulan penumpang BRT

Semarang, 1/8 (BeritaJateng.net) – Kasus pemukulan penumpang Bus Trans Semarang oleh petugas ticketing BRT berbuntut panjang. Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu meminta agar pihak manajemen BLU Trans Semarang segera memecat Aditya, petugas ticketing BRT yang melakukan pemukulan penumpang.

Hal ini disampaikan Ita–sapaan akrab Hevearita usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kantor BLU Trans Semarang di Gedung Juang 45 Semarang, Senin (1/8).

“Menanggapi banyaknya permasalahan yang terjadi di BLU BRT atau Trans Semarang, terkait kecelakaan dan kasus pemukulan sehingga perlu pembenahan menyeluruh. Kasus pemukulan penumpang menjadi sorotan  pemkot Semarang khususnya, sebagai pekerja yang bergerak dibidang jasa petugas BRT tidak boleh bertindak arogan, apalagi sampai main pukul penumpang,” jelas Ita.

Ita mengatakan petugas BRT harus meniru sikap dan attitude petugas bank. Sehingga pelayanan yang dilakukan juga harus total termasuk etika dan kepribadian petugas juga harus baik dan tidak emosional.

“Sebenarnya petugas BRT yang ada saat ini belum sesuai standart. Harusnya, dalam proses rekruitmen harus disertai tes psikologi juga, karena selama ini tes petugas BRT untuk driver dan ticketing hanya melalui tes tertulis dan wawancara saja,” imbuhnya.

Ita meminta kepada pihak manajemen BRT agar segera memecat petugas yang melakukan pemukulan. “Harusnya di PHK aja, agar ada efek jera. Jangan hanya SP3 saja, ini jelas butuh tindakan tegas karena mencoreng nama BLU BRT Trans Semarang yang bergerak dibidang jasa,” katanya.

Menanggapi permintaan Wawalikota Semarang, Kepala BLU Trans Semarang Joko Umboro Jati mengaku akan melakukan rapat koordinasi terlebih dahulu. “Kalau dilihat kronologisnya dan beban kesalahan petugas kami, pihak manajemen BTT tidak ingin serta merta memberikan vonis atau kebijakan yang sangat merugikan seperti pemecatan,” ujar Joko.

Ia menyangkal jika pemukulan yang dilakukan petugas BRT adalah penganiayaan dan penyerangan. “Ini merupakan suatu reaksi saja, kalau kami dengar dari para saksi, banyak mengatakan Aditya sudah menggunakan Standart Operasional  (SOP), namun karena luapan emosi dan ucapan provokatif pak Budiono memicu petugas kami bertindak sembrono,” katanya.

Joko menyayangkan sikap petugas ticketing BRT yang melakukan pemukulan. “Kami atas nama pengelola Manajemen BRT Trans Semarang memohon maaf karena telah terjadi luapan emosi yabg tidak terkontrol dari Aditya petugas ticketing BRT dan kami pastikan kejadian serupa tidak akan terulang kembali,” jelasnya. (Bj05)