Home Lintas Jateng Ironis!!! Gaji Modin Rp. 250ribu, Pemkot Seakan Tutup Mata

Ironis!!! Gaji Modin Rp. 250ribu, Pemkot Seakan Tutup Mata

Semarang, 10/11 (BeritaJateng.net) – Di balik Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang kini mewujudkan program ‘smart city’, masih ada fakta bahwa gaji modin Rp 250 ribu membuat timpang sekaligus menyedihkan. Paguyuban Modin Kota Semarang merasa keluhan terkait gaji atau honor Rp 250 ribu selama ini belum mendapat respons serius dari Pemkot Semarang.

Selama puluhan tahun, mereka mengabdi dengan memberikan pelayanan penuh 24 jam di tengah masyarakat. Tetapi kesejahteraan para modin ini tidak diperhatikan. Pemerintah seolah-olah tutup mata atas fakta ini.

“Belum ada respons serius (dari Pemkot Semarang). Selama ini, ada 270 modin di Kota Semarang masih digaji Rp 250 ribu per bulan untuk kegiatan perawatan jenazah. Belum ada kenaikan sama sekali,” kata Sekretaris Paguyuban Modin Kota Semarang, Narso, di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Rabu (9/11).

Maka dari itu, Paguyuban Modin Kota Semarang berniat melakukan audiensi kepada Komisi D DPRD Kota Semarang untuk menyampaikan aspirasi. “Dulu memang pernah diwacanakan akan ada kenaikan gaji. Tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan tindak lanjut. Kami hanya ingin meminta keadilan. Tenaga kebersihan saja gajinya dinaikkan sesuai UMK (Upah Minimum Kota). Kenapa kesejahteraan modin tidak diperhatikan?,” ungkapnya.

Narso berharap agar Pemkot Semarang memerhatikan kondisi para modin tersebut dengan meningkatkan kesejahteraan. Lain sisi, pihaknya mengakui para modin seringkali diberikan sesuatu imbalan jasa dari warga yang sifatnya tidak mengikat. Tetapi sekarang, modin takut menerima imbalan apapun dari warga. Apalagi, pasca pemerintah menggulirkan pemberantasan praktek pungli.

“Modin tidak pernah meminta imbalan. Tetapi biasanya kesadaran warga memberikan imbalan jasa seikhlasnya. Sekarang kami takut menerima karena takut dikategorikan pungli. Kami mencari rizki yang halal,” katanya.

Menurutnya, hal ini menjadi bagian persoalan sosial perkotaan yang perlu dicarikan solusi. Sebab, selama ini fakta gaji Rp 250 ribu ini hanya menjadi ironi tanpa ada solusi. Bahkan di antara modin ada yang telah aktif sejak tahun 1980-an, yakni Mbah Abdul Rochim, 74. Ia bertugas sebagai modin di Kelurahan Kali Banteng Kidul Kota Semarang.

“Oleh karena itu, kami berharap DPRD Kota Semarang bisa menjembatani agar bisa mencarikan solusi,” katanya.

Terpisah sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengakui kondisi modin di Kota Semarang belum mendapat kesejahteraan cukup. Sebab honor modin masih jauh dari sebutan layak, yakni Rp 250 ribu per bulan. Pihaknya mengaku masih memikirkan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan para modin di Kota Semarang.

Horor tersebut belum bisa disebut ‘gaji’, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyebutnya ‘stimulan’ atau bantuan transportasi. “Jadi, apakah modin itu sudah mendapat kesejahteraan cukup? Saya rasa belum. Karena kami Pemerintah Kota Semarang, sifatnya hanya memberi stimulan. Yakni memberi bantuan dana transportasi, setiap bulannya baru Rp 250 ribu,” kata Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Dikatakan Hendi, apakah Pemerintah Kota Semarang bisa memberikan gaji kepada modin? Sejauh mana Pemerintah Kota Semarang bisa melakukan peningkatan kesejahteraan kepada para modin. “Hal itu harus ditelaah lagi. Tapi untuk stimulan Rp 250 ribu itu jika dirasa kurang, kami akan coba tingkatkan,” ungkapnya.

Namun demikian, dengan meningkatkan salah satu stimulan transport modin ini, lanjut Hendi, maka akan mengakibatkan adanya pembengkakan biaya. “Efeknya kepada satuan standar harga untuk teman-teman yang lain. Tentunya ada pembengkakan biaya secara keselurahan. Ya kami sesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” katanya. (Bj)

Advertisements