Home News Update Insiden Saat Pertunjukan Wayang Kulit Berkaitan Dengan Pilwakot?

Insiden Saat Pertunjukan Wayang Kulit Berkaitan Dengan Pilwakot?

image

Semarang, 30/4 (BeritaJateng.net) – Beberapa insiden terjadi dalam pagelaran Wayang Kulit Ki Mantep Sudarsono memperingati HUT Kota Semarang ke-468, di halaman Balaikota, Rabu (29/4) malam kemarin. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan beberapa pejabat Pemkot Semarang dibuat kaget saat panggung pagelaran tiba-tiba ambruk.

Pagelaran wayang yang dimulai pukul 21.00 WIB ini awalnya berlangsung aman dan mampu menyedot ratusan pengunjung. Namun sekitar pukul 23.00 WIB, hujan deras turun mengakibatkan banyak penonton berhamburan dari lokasi acara untuk mencari tempat berteduh. Diduga karena air hujan tertahan di atap panggung, sekitar pukul 23.50 WIB tiang panggung tak kuat menahan beban air yang tertampung di atap panggung. Akhirnya panggung ambrol, meski saat itu pertunjukan wayang masih berlangsung.

Pertunjukkan wayang yang mengangkat lakon Wahyu Mahkutarama itu pun akhirnya dihentikan. Beruntungnya tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Ki Mantep Sudarsono menyingkir dari area panggung dan mengemasi beberapa peralatan wayangnya. Akhirnya pertunjukan wayang tak dilanjutkan, dan panggung segera dikemasi oleh panitia.

Lebih dari itu, hal tragis juga di rasakan seorang pedagang rokok asongan yang berjualan saat pagelaran wayang di halaman Balaikota Semarang. Mubadi (45) menitihkan air mata di depan Kantor Walikota Semarang, sekitar pukul 00.15 WIB. Pria yang tinggal di dekat Pasar Kobong, Semarang Timur itu, meratapi ratusan bungkus rokok miliknya yang dijarah puluhan orang di depan kantor walikota.”Ini siapa yang membayar rokoknya, Pak?,” kata pria asal Banjarnegara itu saat mengadu kepada Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi.

Mubadi mengisahkan, penjarahan yang tergolong ironis itu bermula ketika dia menjajakan rokok di tengah pertunjukan wayang kulit dalang Ki Manteb Sudarsono di halaman Balaikota, Jalan Pemuda. Pertunjukkan wayang pun dihentikan karena hujan deras. Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, saat itu pun berjalan dari panggung ke Kantor Walikota yang jaraknya sekitar 10 meter.”Pak Wali (Hendrar Prihadi, Red.) kemudian membeli satu makanan dibayar lewat anak buahnya. Tak lama kemudian ada satu warga yang meminta Pak Wali membayari rokok,” kata Mubadi.

Menurut Mubadi, sang walikota mengizinkan dan menyanggupi membayarkan sebungkus rokok kepada warga tersebut. “Tetapi rupanya puluhan orang yang ada di dekat Pak Wali juga ingin mengambil rokok. Mereka langsung menyerbu dagangan saya. Peristiwanya cepat dan orangnya banyak, saya tak bisa menahan mereka,” katanya lemas.

Mubadi bingung ke mana harus meminta ganti rugi barang dagangannya sekitar 250 bungkus rokok yang jadi ‘bancakan’ para penonton wayang. Ia beberapa kali terlihat menangis sambil duduk di halaman balaikota.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi membenarkan adanya peristiwa penjarahan tersebut. “Saya sedang mengusahakan ganti rugi kepada Mubadi,” ujarnya. 

Dari insiden yang terjadi, ada beberapa orang yang menafsirkan bermacam hal mengenai kejadian tersebut, bahkan di salah satu akun Facebook milik Pemkot banyak yang mengaitkannya dengan Pilwalkot dan mereka-reka apa yang terjadi kemudian hari dengan Kota Semarang. (BJ05)