Home Ekbis Inilah Tanggapan Walikota Soal Trans Studio Semarang

Inilah Tanggapan Walikota Soal Trans Studio Semarang

Hendrar Prihadi, Ketua DPC PDIP Kota Semarang 2015-2020
Hendrar Prihadi, Ketua DPC PDIP Kota Semarang 2015-2020

Semarang, 8/3 (beritaJateng.net) – Hendra Prihadi yang akrab disapa Hendi menanggapi penolakan pembangunan Trans Studio Semarang (PT. Trans Ritail Properti) yang dilayangkan seniman di beberapa surat kabar dan media sosial.

Menurut Hendi, keinginan untuk mengembangkan wahana menarik wisata Trans Studio ini harus didukung semua orang.

“MoU yang ditandangani Jumat (6/3) lalu merupakan sebuah langkah awal, setelah proses secara lisan yang cukup panjang hampir setahun, dan akhirnya Trans Studio (PT. Trans Ritail Properti, Red.) berkenan berinvestasi di kota Semarang ini seharusnya patut di apreasiasi, bukan malah ditolak oleh seniman dan masyarakat kota Semarang,” ungkapnya.

Kalau kemudian, lanjut Hendi, dalam perjalanannya, perencanaan dan proses pastinya juga memakan waktu yang cukup lama, sekitar 10 bulan hingga 1 tahun, seperti dalam pembuatan Detail Engginering Desain (DED), perencanaan pembangunan area tersebut, dan lain sebagainnya. Nah, dalam proses pembangunan tersebut, sembari akan kita lakukan proses public hearing. 

“Hei konco-konco seniman kamu kepinginnya gimana?. Pak, TBRS harus tetap dipakai oleh budayawan,” seru Hendi mencontohkan hearing public yang akan dilakukan nantinya.

Tapi misalnya, tambah Hendi, supaya ndak jomplang harus dibangun lebih baik, minta investor untuk membangun dan mempercantik TBRS supaya orang juga tertarik datang ke TBRS. Pembangunan Trans Studio ini diharapkan bisa saling bersinergi.

“Orang yang ingin ke trans studio, bisa mampir ke TBRS sehingga para seniman bisa unjuk gigi dengan hasil karyanya,” ujarnya.

Ia menambahkan, atau jika seniman meminta untuk pindah ketempat yang lebih bagus dan lebih representative, maka kita tawarkan seniman ingin dipindah kemana, kita fasilitasi. Dan untuk investor diharapkan membangunkan dan mempercantik wilayah tersebut.

“Ini akan menjadi hal positif. Kota ini kekurangan tempat wisata, sehingga hotel juga masih sepi saat Sabtu dan Minggu. Kalau kita tambah trans studio yang telah meledak di Makasar dan Bandung itu kan bagus. Kenapa harus dilawan oleh kawan-kawan seniman? Kita belum ngomong rencananya bagaimana, kok sudah dilawan. Kalau investornya tahu, penolakan masyarakatnya kuat, investasi ini bisa saja cancel, padahal ini investasi triliunan loh,” tegas Hendi.

Menanggapi ocehan di media sosial terkait rencana ‘rembuk’ bersama seniman #saveTBRS yang rencananya akan dilaksanakan Minggu malam, Hendi mengaku, pada Minggu ini (8/3) tidak dapat memenuhi undangan seniman yang dilayangkan via twitter, dikarenakan masih berada di Yogyakarta. 

“Minggu saya di Jogja, sehingga saya coba tawarkan untuk bertemu di Taman Budaya Raden Saleh Jalan Sriwijaya Semarang pada Selasa malam (10/3) besok,” tambahnya.

Menurutnya, rembuk tersebut untuk mengantisipasi segalanya. “Jangan sampai permasalahan ini di tumpangi pihak tidak bertanggungjawab. Intinya kami ingin membuat Semarang lebih baik, dan berharap dengan adanya Trans Studio menambah destinasi wisata di kota Semarang,” tutur hendi. (BJO5)