Home Ekbis Inflasi di Purwokerto 1,38 Persen

Inflasi di Purwokerto 1,38 Persen

image
Ilustrasi

Purwokerto, 2/12 (Beritajateng.net) – Inflasi di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada November 2014 sebesar 1,38 persen, atau secara kumulatif atau tahun kalender mengalami inflasi 4,89 persen, kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Rahmat Hernowo.

“Secara tahunan, inflasi kota Purwokerto menjadi 5,15 persen, dan berada di bawah inflasi nasional 6,23 persen,” katanya di Purwokerto, Selasa.

Menurut dia, realisasi inflasi bulan November 2014 tersebut di atas perkiraan sebelumnya sebesar 0,30 persen (mtm) karena adanya kenaikan bahan bakar minyak dan perubahan cuaca ekstrem yang menyebabkan melambungnya harga komoditas bumbu-bumbuan.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa inflasi kota Purwokerto disebabkan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, yakni bensin (premium), cabai merah, beras, cabai rawit, dan angkutan dalam kota.

“Memperhatikan perkembangan perkembangan terkini, pada bulan Desember 2014 diperkirakan mengalami inflasi sebesar 0,50 persen. Hal ini dengan mempertimbangkan kecenderungan kenaikan harga komoditas beras dan bumbu-bumbuan, kenaikan tarif angkutan antarkota, serta adanya momentum Hari Natal, dan kecenderungan kenaikan upah,” katanya.

Terkait inflasi di Purwokerto pada bulan November yang mencapai 1,38 persen, dia mengatakan bahwa hal itu lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,41 persen.

Ia mengatakan bahwa tekanan inflasi pada kelompok “volatile food” (VF) mengalami kenaikan yang signifikan pada bulan November 2014.

Menurut dia, kelompok VF mencatatkan inflasi sebesar 2,39 persen (month to month/mtm), lebih tinggi dibanding rata-rata lima tahun terakhir yang mencapai 0,15 persen (mtm).

Secara tahunan, kata dia, inflasi kelompok VF mengalami kenaikan dari 4,67 persen (year on year/yoy) pada bulan Oktober menjadi 7,44 persen (yoy) pada bulan November 2014.

“Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar pada kelompok VF ini adalah beras, cabai merah, serta cabai rawit dengan masing-masing andil sebesar 0,14 persen (mtm) dan 0,17 persen (mtm). Hal ini sejalan dengan survei pemantauan harga yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto yang mencatatkan kenaikan pada komoditas beras sebesar 2,06 persen (mtm) dan cabai merah sebesar 16,49 persen (mtm),” katanya.

Kendati demikian, Wowo (panggilan akrab Rahmat Hernowo, red.) mengatakan bahwa tekanan pada kelompok “volatile food” sedikit teredam oleh deflasi pada beberapa komoditas seperti daging ayam ras, kangkung, terong panjang, dan apel.

Secara agregat, kata dia, tekanan dari sisi permintaan cukup tinggi tercermin pada inflasi kelompok inti bulan November 2014 sebesar 0,23 persen (mtm) mengalami perlambatan dari bulan sebelumnya sebesar 0,35 persen (mtm) dan berada di atas rata-rata lima tahun terakhir sebesar 0,04 persen (mtm).

Menurut dia, subkelompok yang terpantau mengalami kenaikan di antaranya subkelompok ikan diawetkan, biaya tempat tinggal, perlengkapan rumah tangga, penyelenggaraan rumah tangga, obat-obatan, komunikasi dan pengiriman, serta sarana dan penunjang transportasi.

“Ekspektasi inflasi pada bulan November masih relatif tinggi yang tercermin dari indeks ekspektasi konsumen mencapai 127,67. Namun demikian, jika dilihat dari tren bulan-bulan sebelumnya, ekspektasi tersebut konsisten mengalami perlambatan,” katanya.

Ia mengatakan bahwa tekanan inflasi kelompok “administered prices” mengalami lonjakan sebagai dampak dari kenaikan bahan bakar minyak.

Terkait perkiraan inflasi bulan Desember 2014 yang mencapai 0,50 persen, dia mengatakan bahwa hal itu terjadi karena secara umum tekanan inflasi di sisi “volatile foods” diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan belum membaiknya pasokan sejumlah komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan.

Sementara dari sisi ekspektasi, kata dia, pada bulan Desember mengalami peningkatan karena adanya momentum Hari Natal diperkirakan akan memberikan tambahan kenaikan pembelian barang konsumen.

“Hal tersebut tercermin dari indeks ekspektasi konsumen yang cukup tinggi, yakni sebesar 127,67. Dari sisi penjualan barang, pedagang juga berekspektasi adanya kenaikan harga dan penjualan untuk komoditas bahan makanan dan komoditas bahan bakar,” katanya.

Menurut dia, beberapa faktor risiko yang berpotensi menekan kenaikan inflasi yang tetap perlu diwaspadai, yakni penurunan produksi tanaman pangan khususnya padi, kenaikan tarif listrik industri, kenaikan upah minimum regional atau kabupaten, serta kenaikan berlanjut tarif angkutan antarkota dan dalam kota.(ant/pj)