Home DPRD Kota Semarang Indonesia Butuh Parlemen yang Terbuka, Aspiratif dan Dekat dengan Rakyat

Indonesia Butuh Parlemen yang Terbuka, Aspiratif dan Dekat dengan Rakyat

Suasana saat sidang paripurna LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2014 di Gedung DPRD Kota Semarang, Jumat (24/4)

 

Semarang, 29/4 (BeritaJateng.net) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang ingin membangun konsep parlemen modern yang lebih terbuka, aspirastif, dan semakin dekat dengan rakyat.

“Untuk memperkuat misi mewujudkan parlemen modern, kami melakukan studi banding ke Biro Humas DPR RI Kamis (28/4) siang,” kata Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi di Semarang, Kamis malam.

Kunjungan dalam rangka studi banding itu dilakukan Supriyadi beserta tiga Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, yakni Joko Santoso, Agung Budi Margono, dan Wiwin Subiyono, serta jajaran humas.

Ditemui usai tiba di Semarang, politikus PDI Perjuangan itu mengatakan parlemen modern, salah satunya dilakukan dengan memperkuat program transparansi informasi melalui teknologi informasi (IT).

Berbagai media bisa digunakan untuk mewujudkan parlemen modern, lanjut dia, seperti media “online”, media sosial, radio, hingga televisi parlemen sehingga bisa menginformasikan kegiatan DPRD.

Sebagai contoh, televisi parlemen, lanjut dia, harus memahami pentngnya dokumentasi, sosialisasi kegiatan, dan regulasi-regulasi yang sudah ditetapkan DPRD untuk diketahui masyarakat.

“Parlemen modern merupakan parlemen yang lebih terbuka, aspiratif, serta semakin dekat dengan rakyat. Hal ini sesuai dengan amanat UU Nomor 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengungkapkan konsep parlemen modern mengharapkan lebih dibukanya partisipatif masyarakat yang tidak sebatas daerah pemilihan.

Jadi, kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, parlemen harus lebih terbuka dengan mengedepankan partisipatif tanpa dibatasi konstituen di dapil masing-masing anggota legislatif.

Ia mencontohkan kegiatan resesnya beberapa waktu lalu dengan mengundang kalangan “netizen” untuk menyampaikan persoalan yang terjadi di Kota Semarang dengan cakupan yang lebih luas.

Agung mengatakan antusias masyarakat ternyata besar untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi, baik di lingkup tempat tinggalnya masing-masing maupun yang dihadapi Semarang secara umum.

“Parlemen modern adalah parlemen yang representatif, membuka ruang luas untuk partisipasi publik, mudah diakses, dan transparan. Mau tidak mau, teknologi digital harus digunakan,” katanya. (Bj05)