Home Ekbis Indocement Harapkan Pemerintah Permudah Ijin Pendirian Pabrik Semen di Pati

Indocement Harapkan Pemerintah Permudah Ijin Pendirian Pabrik Semen di Pati

SEMARANG, 27/4 (BeritaJateng.net) – Direktur Utama PT Indocement Christian Kartawidjaya mengharapkan agar pemerintah mempermudah pendirian pabrik semen di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Christian berdalih, investasi senilai Rp7 triliun yang akan ditanamkan di Pati bukan jumlah sedikit dan nantinya akan mendatangkan pemasukan yang signifikan untuk pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Pati, disamping bisa menyerap ribuan tenaga kerja.

“Presiden Jokowi baru saja melawat ke Eropa. Salah satunya menarik investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kalau ada dari bangsa sendiri yang akan menanamkan investasinya, mestinya diberi fasilitas kemudahan dalam perijinan dan semua aspek yang terkait dengan penanaman investasi tersebut,” ungkapnya kepada wartawan di Semarang.

Jalan terjal yang saat ini dihadapi Indocement yang akan mendirikan pabrik semen di Pati, menurut Christian akan terus diperjuangkan sampai berhasil. Tentu saja kalau didukung oleh semua pihak.

Penolakan oleh sebagian masyarakat Pati dinilai Christian merupakan hal yang masih lumrah karena masih ada yang belum paham terhadap dampak pendirian pabrik semen.

“Saya siap untuk turun langsung berdialog dengan masyarakat Pati khususnya yang sampai saat ini masih menolak pendirian pabrik. Iya saya siap untuk turun sendiri,” tegasnya.

Menanggapi kekalahan pihaknya di PTUN Semarang beberapa waktu yang lalu, Christian mengatakan, data yang digunakan majelis hakim yang menyidangkan masalah tersebut merupakan data survey awal yang dilakukan pihaknya beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu pihaknya kini mengajukan banding ke PT TUN di Surabaya dengan mengajukan bukti bukti yang sudah dimiliki pihaknya.

“Memang data survey awal yang kami lakukan ada 67 persen masyarakat Pati yang menolak pendirian pabrik semen, namun sekarang situasinya sudah berbeda, Saat ini sebagian besar masyarakat mendukung pendirian pabrik semen dan hanya sebagian saja yang menolak,” katanya.

Christian menambahkan, kekhawatiran masyarakat yang saat ini masih menolak, sebagian besar menyoroti masalah sumber air yang dalam pandangan mereka akan mongering akibat adanya pabrik semen.

Terhadap masalah ini Christian menjamin air akan tetap tersedia seperti sedia kala dan tidak akan terganggu oleh adanya pabrik semen.

“Dari pabrik pabrik kami yang ada di Citeureup dan Cirebon kebutuhan air masyarakat tidak terganggu operasionalisasi pabrik. Bahkan kami membantu suplai warga yang membutuhkan air bersih saat datang musim kering. Silakan kalau ada yang ingin membuktikan,” katanya.

Kekhawatiran lain yang dialami masyarakat dan dicatat oleh Christian adalah masalah polusi udara karena debu. Menurut Christian, pihaknya sudah menyiapkan teknologi khusus yang bisa mencapai nilai ambang batas debu sebesar 60 mg per meter kubik untuk seluruh kompleks pabriknya.

Angka ini 25% lebih rendah dibandingkan dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang mencapai 80 mg per meter kubik. Selain itu penggunaan bahan bakar alternatif yang sekarang dominan di Indocement, sukses menurunkan emisi CO2. Bahan bakar alternatif tersebut adalah cangkang sawit dan serbuk gergaji yang dianggap sebagai energi ramah CO2 (CO2-neutral).

Industri ramah lingkungan juga dilakukan Indocement secara berkesinambungan dalam pengembangan energi terbarukan. Indocement intensif menanam tanaman energi seperti Kemiri Sunan, Jarak Pagar dan King Grass di lahan ex-tambang.

Dalam teknologi pabriknya, Indocement juga menggunakan teknologi terbaru berupa bag filter, yang sudah diaplikasikan di Pabrik Cirebon. Teknologi ini adalah yang paling mutakhir dan efektif dalam menyerap debu.

Plus, pemasangan Flue Gas Desulfurization (FGD) mampu mengurangi emisi Sox menjadi kurang dari 100 miligram per meter kubik.

Angka ini sangat kecil (13%) dibanding ketentuan nilai ambang batas baku mutu SOx Indonesia, 750 miligram per meter kubik.

Upaya pengurangan emisi sangat signifikan juga dilakukan dalam proses transportasi produknya. Indocement menggunakan moda transportasi kereta api di banyak titik tujuan antaran di pulau Jawa.

Sebagai perbandingan, emisi CO2 yang dihasilkan alat angkut truk mencapai 41,0 kg CO2 per ton semen. Dengan menggunakan kereta api, emisi transportasi semen hanya 4,2 kg CO2 per ton semen. Atau 10% dari emisi CO2 yang dihasilkan truk. (BJ13)