Home Headline Ikon Bandungan Harus Dikembalikan Sebagai Tempat Wisata Pegunungan

Ikon Bandungan Harus Dikembalikan Sebagai Tempat Wisata Pegunungan

321

SEMARANG, 13/8 (Beritajateng.net) – Penataan kawasan wisata Bandungan Kabupaten Semarang harus dikembalikan seperti semula sebagai tempat wisata yang menjual udara sejuk (pegunungan), tempat belanja buah, sayuran segar dan bunga. Saat ini wisatawan tidak lagi mudah memperoleh komoditas pegunungan yang semula menjadi andalan di Bandungan.

Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto mengatakan hal tersebut di hadapan Kepala Desa di 4 kecamatan yakni Kecamatan Bandungan, Ambarawa, Jambu dan Sumowono dalam Reses Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Griya Persada Convention & Resort Bandungan, Rabu (12/8).

“Bandungan dulu ikonnya wisata udara, buah, bunga, dan sayur. Mari kita kembalikan sehingga menjadi nyaman. Kalau punya semangat, mari diubah bersama,” katanya di forum yang juga dihadiri Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kab Semarang Dapil V The Hok Hiong dan Lia Amelia serta Camat keempat kecamatan tersebut.

Bambang mencontohkan kawasan wisata Selecta dan Telaga Sarangan di Jawa Timur. Keduanya mirip Bandungan dengan mengandalkan pemandangan indah dan hawa sejuk pegunungan.

“Mari kita kembalikan seperti Selecta dan Telaga Sarangan. Di Telaga Sarangan ramai oleh UMKM, bukan karena karaoke. Karaoke sebagai penunjang saja,” ujar pria yang akrab disapa Bambang Krebo ini.

Lebih lanjut Krebo mengatakan, saat ini sudah dibangun Pasar Bandungan yang baru. Dengan selesainya pembangunan pasar ini maka pasar lama yang saat ini lokasinya berada di persimpangan jalan dari Uangaran, Ambarawa dan Sumowono harus segera dipindah agar tempat tersebut bisa ditata ulang.

“Lahan di bekas pasar ini akan dibangun ruang terbuka hijau lengkap dengan bundaran agar lalu lintasnya lancar. Jalan Bandungan sampai Sumowono juga akan dilebarkan.” Jelasnya.

Selain itu, dia berharap desa-desa di wilayah Jambu, Ambarawa, Bandungan, dan Sumowono bisa dikembangkan sebagai desa wisata. Terlebih saat Pemprov Jateng memiliki anggaran untuk pengembangan desa wisata dengan jumlah bervariasi. Yaitu bantuan Rp100 juta untuk desa wisata yang masih rintisan, Rp500 juta untuk desa wisata diatas rintisan, dan Rp1 miliar bagi yang sudah go public.

“Di Kabupaten Semarang yang dapat bantuan Rp1 miliar baru Desa Wisata Lerep. Karena itu mari berlomba-lomba membuat desa wisata,” katanya.

Tak hanya di Bandungan, pengembangan wisata di Kabupaten Semarang juga akan dilakukan di kawasan Gedongsongo dan Rawa Pening. Selain itu, gedung PIKK di Tuntang akan disulap menjadi sentra oleh-oleh dan penjualan produk UMKM.

“Kebetulan gedung PIKK lokasinya strategis di depan Saloka. Wisatawan itu datang karena tertarik dengan alam, sementara souvenir seperti kaos dicari untuk kenang-kenangan bahwa seseorang sudah pernah ke tempat wisata tersebut,” paparnya.

(ADV)