Home Lintas Jateng Hendi: Pembangunan Polder Lima Hilir Dinilai Efektif Atasi Rob di Semarang 

Hendi: Pembangunan Polder Lima Hilir Dinilai Efektif Atasi Rob di Semarang 

Wali kota Semarang Hendrar Prihadi saat meninjau lokasi Rob di Genuk.

 

Semarang, 18/5 (BeritaJaateng.net) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang akrab disapa Hendi menilai pembangunan polder di lima hilir sungai cukup efektif untuk mengatasi persoalan rob, limpasan air laut.

“Paling tepat, dibuatkan polder di masing-masing hilir sungai, yakni Sungai Babon, Sringin, Tenggang, Banger, dan Banjir Kanal Timur,” katanya, saat meninjau wilayah yang terkena rob di Semarang, Selasa.

Hendi bersama jajaran Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air-Energi Sumber Daya Mineral (PSDA-ESDM) Kota Semarang meninjau sejumlah wilayah yang kena rob, seperti kawasan Genuk dan Kemijen, Semarang.

Menurut dia, pemerintah pusat sudah menyatakan kesiapannya membantu normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur, sementara Pemerintah Kota Semarang tengah menyelesaikan pembangunan Polder Banger.

“Untuk tiga sungai itu, yakni Sungai Sringin, Tenggang, dan Babon akan menjadi PR (pekerjaan rumah) kami dalam waktu dekat ini. Kami juga sudah bertemu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo,” katanya.

Hasil pertemuan itu, kata dia, Pemerintah Provinsi Jateng bersedia membantu Pemkot Semarang menangani tiga sungai yang berada di wilayah timur itu sehingga bisa menanggulangi persoalan rob.

Ia mengakui wilayah Semarang, terutama di Genuk dan Kaligawe Semarang tengah menghadapi persoalan rob dalam dua minggu terakhir dengan genangan air yang sudah memasuki kawasan permukiman warga.

“Penampang-penampang sungai atau kali juga sudah penuh dengan air. Selama dua minggu terakhir ini, kami memang menghadapi problem yang cukup ‘urgent’ mengenai rob ini,” kata Hendi.

Rob yang menggenangi jalan dan permukiman warga selama dua minggu terakhir, lanjut dia, diakibatkan faktor alam, mengingat pada tahun lalu rob tidak sampai separah itu menggenangi permukiman.

“Kami punya tiga rencana, jangka pendek, menengah, dan panjang. Jangka menengah dan panjang, normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur dan Polder Banger. Keduanya sedang ‘in process’,” katanya.

Jangka pendek, kata Hendi, antara lain dengan mengeruk sungai-sungai yang sudah dangkal, membersihkan drainase yang selama ini tersumbat sampah dan kotoran, serta memasang tanggul dari karung pasir.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PSDA-ESDM Kota Semarang Ayu Enthys membenarkan fenomena rob yang terjadi di wilayah itu sejak dua minggu belakangan diakibatkan faktor alam.

“Memang ini kondisi alam. Akan tetapi, kita tidak bisa menyerah begitu saja. Sambil menunggu proyek yang diusulkan ke provinsi, kami menerapkan solusi sementara dengan membuat tanggul,” katanya.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jateng, Ayu menyebutkan air pasang tertinggi terjadi selama tiga hari, yakni 13-15 Mei lalu dengan ketinggian 1,1 meter.

“Sebetulnya, data pada minggu ini (air pasang, red.) sudah turun. Nanti, pada 25 Mei mendatang air laut akan naik lagi,” pungkasnya. (Bj)