Home Ekbis Hadapi MEA, Pembangunan Desa Harus Direncanakan Dengan Matang

Hadapi MEA, Pembangunan Desa Harus Direncanakan Dengan Matang

reza

SEMARANG, 11/6 (beritajateng.net) – Menghadapi diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) 2016 mendatang, Bangsa Indonesia harus betul betul menyiapkan diri agar mampu bersaing dalam percaturan global, tidak terkecuali masyarakat yang tinggal di pedesaan. Karena kalau tidak dilakukan, mereka akan semakin tertinggal dan terdesak oleh dominasi ekonomi asing.

Pembangunan di pedesaan selama ini dilakukan tanpa konsep yang jelas sehingga berjalan tanpa arah. Sekarang inilah saatnya untuk membenahi konsep pembangunan khususnya di pedesaan dengan lebih terarah dan terencana. Oleh karena itu penggunaan teknologi modern harus dilakukan agar potensi wilayah desa bisa berkembang secara optimal.

Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah Mifta Reza NP, SP MM mengungkapkan hal tersebut saat berbincang dengan beritajateng, di ruang kerjanya, Kamis (11/6). Menurut Reza, perencanaan pembangunan desa sudah saatnya dilakukan dengan menggunakan teknologi drone, yakni photo udara yang kegunaannya bisa memetakan secara visual potensi yang dimiliki.

“Dengan konsep drone ini kita bisa mengetahui wilayah mana yang cocok untuk pemukiman, ruang terbuka hijau, pertanian, hutan bahkan untuk wisata,” ungkapnya.

Penggunaan teknologi tersebut bermanfaat untuk merencanakan pembangunan sesuai tata ruang wilayah (RTRW) pedesaan, walaupun secara formal  belum dibakukan RTRW di tingkat desa.  Dengan demikian pembangunan khususnya yang berkaitan dengan infrastruktur bisa berjalan dengan lebih baik dan sesuai dengan potensi yang dimiliki serta berkesinambungan dengan program program lainnya.

Pembangunan di desa secara terstruktur dan menyeluruh baik untuk jangka pendek, menengah dan panjang harus mulai direncanakan dengan baik mendasari pada penggunaan teknologo drone ini. Hasil foto udara digunakan sebagai acuan pembuatan program yang dilaksanakan dalam musrenbang tingkat desa.

“Dengan disahkannya Undang Undang Desa beberapa waktu yang lalu, secara bertahap desa akan menjadi pusat pembangunan. Banyak dana yang mengalir, sehingga harus disiapkan secara cermat agar bisa digunakan dengan optimal dan berkesinambungan,” jelasnya.

Kalau tidak, tambah politisi Partai Gerindra ini, pembangunan tidak akan menyentuh akar persoalan yang selama ini menyelimuti masyarakat desa. Masyarakat desa tetap akan identik dengan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. “Desa bisa jadi tetap tidak menarik bagi para pemudanya, mereka lebih tertarik untuk pergi ke kota dan bekerja sebagai buruh industri dan sektor informal lain,” pungkasnya. (BJ13)