Home Ekbis GoFood Jadi Penyangga Ekonomi Semarang di Masa Pandemi

GoFood Jadi Penyangga Ekonomi Semarang di Masa Pandemi

224

SEMARANG, 25/9 (beritajateng.net) — Ekosistem ekonomi digital yang dimiliki Gojek mendukung ketahanan ekonomi selama pandemi COVID-19 di Kota Semarang. Solusi teknologi dan non-teknologi yang ditawarkan platform digital Gojek membantu pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) di Kota Lumpia beradaptasi sehingga bisa bertahan di situasi pandemi COVID-19, dan tetap optimis bertumbuh ke depannya. Salah satunya melalui kemudahan migrasi UMKM dari offline ke online, atau mempercepat UMKM untuk “go digital.”

Demikian temuan utama dari riset terbaru Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang berjudul, “Peran Ekosistem Digital Gojek di Ekonomi Semarang Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19.”

Dr. Alfindra Primaldhi, Peneliti LD FEB UI memaparkan, “riset ini menunjukkan peran ekosistem ekonomi digital dalam membantu UMKM, khususnya usaha mikro, untuk bertahan di masa pandemi. Kondisi pandemi ini menguji resiliensi (ketahanan), dan kemampuan adaptasi para pelaku usaha di masa krisis. Salah satu adaptasi itu adalah mengubah usaha tradisional menjadi usaha digital.

Tampak juga bahwa para pelaku usaha cukup realistis melihat dampak panjang dari pandemi, namun mereka juga tetap optimis bahwa dengan berada dalam suatu ekosistem digital, usaha mereka dapat tetap tumbuh kedepannya, dan penghasilan mereka kembali seperti sebelum pandemi.

Riset LD FEB UI menunjukkan bagaimana GoFood menjadi penyangga ekonomi di Kota Semarang bagi mereka yang penghasilannya terdampak pandemi terutama pekerja swasta dan profesional. Riset menemukan 44% Mitra GoFood yang disurvei baru bergabung saat pandemi COVID-19 (sejak Maret 2020). Di antara mitra tersebut, 93% adalah pengusaha skala mikro. Lebih lanjut lagi, 44% di antara mereka merupakan pengusaha yang pertama kali mulai berbisnis.

“Riset LD juga menemukan bahwa mayoritas mitra UMKM menganggap mereka mampu beradaptasi di situasi pandemi karena berada di ekosistem Gojek. UMKM yang merasa mampu beradaptasi selama pandemi dengan menjadi mitra adalah 90% mitra UMKM GoFood, 96,7% mitra UMKM social seller pengguna GoSend, dan 91,8% mitra UMKM GoPay,” papar Dr. Alfindra.

Hal ini dikarenakan, mitra menganggap solusi teknologi dan non-teknologi dari Gojek membantu keberlangsungan usaha mereka. Mitra UMKM GoFood merasakan manfaat dari fitur teknologi pengaturan promosi mandiri (69%) dan komunitas partner GoFood (35%). Sementara mitra UMKM social sellers pengguna GoSend sangat merasakan manfaat dari fitur Layanan GoSend dalam Kota (82%) dan Layanan GoSend Antar-Kota (37%). Sedangkan, Mitra UMKM GoPay merasakan manfaat dari fitur penerimaan pembayaran non tunai (83%) dan aplikasi GoBiz (60%).

Mayoritas mitra akan tetap bermitra dengan Gojek untuk jangka panjang (87%), karena mereka merasa dapat bertahan bersama Gojek (90%). Sekitar 89% mitra cenderung optimis bersama Gojek usaha mereka akan tetap tumbuh, penghasilan kembali seperti sebelumnya, dan dapat mencukupi kebutuhan diri dan keluarga.

Riset LD juga mengungkapkan, 94% mitra driver di Kota Semarang mendapatkan bantuan dari Gojek selama masa pandemi Covid-19 dan 86% mitra mengapresiasi bantuan tersebut. Semangat gotong royong sangat tercermin di ekosistem Gojek dalam bentuk upaya saling membantu di tengah pandemi. Dimana 47% mitra driver masih memberikan bantuan sosial kepada keluarga, tetangga, dan sesama mitra. 78% mitra juga optimis penghasilannya akan kembali seperti sebelumnya dan 82% dari mitra driver optimis bahwa kemitraan mereka dengan Gojek dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. 92% dari mitra driver juga akan melanjutkan kemitraan dengan Gojek seterusnya dengan batas waktu tak terhingga.

Semangat gotong royong juga terjadi di mitra lainnya. Mayoritas mitra GoFood (72%) memberikan bantuan sosial. Hampir setengah dari mitra GoFood memberikan bantuan ke driver ojek online (30%).

(NK)