Home Lintas Jateng Generasi Samin Mulai Berkurang

Generasi Samin Mulai Berkurang

images(76)

Kudus, 16/3 (Beritajateng.net) – Warga sedulur sikep perlu memiliki perpustakaan guna memberikan kemudahan pada generasi mereka dalam memahami kiprah Samin Surosentiko yang mewarisi ajaran Samin, kata peneliti Samin Moh. Rosyid.

“Generasi Samin yang ada saat ini memang mulai berkurang seiring pemahaman warga Samin terhadap muatan ajaran leluhurnya yang tidak kokoh karena tidak selalu diwariskan oleh orang tuanya,” ujar Moh. Rosyid yang juga Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus di Kudus, Senin (16/3) seperti dikutip Antara.

Selain itu, kata dia, desakan budaya global melalui dunia maya dan mudahnya mengakses informasi menjadi penyebab bergesernya warga Samin memegang teguh ajaran leluhurnya.

Atas dasar kondisi tersebut, kata dia, beberapa sesepuh Samin mencoba mendokumentasikan ajaran leluhurnya menjadi buku stensilan, yang selama kurun waktu lama ajaran Samin diwariskan secara tutur, selain tulisan peneliti Samin yang dibukukan.

“Tulisan para peneliti tentang Samin, di antaranya Lance Castle hingga penulis Samin dari dalam negeri,” ujarnya.

Hasil penelitian tersebut, kata dia, bisa dijadikan sumber belajar bagi warga Samin dan non-Samin agar ajaran leluhur, perjuangan, dan dinamika Samin sejak kolonial hingga kini tidak lenyap karena pengaruh globalisasi.

Oleh karena itu, kata dia, rencana pembuatan perpustakaan Samin di Padepokan Samin di Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora perlu segera direalisasikan.

Saat ini, kata dia, generasi Samin yang masih eksis tersebar di Kabupaten Blora, Pati, dan Kudus.

Wacana pembuatan perpustakaan Samin, kata dia, memang mendapatkan tanggapan Pemkab Blora dengan menindaklanjutinya lewat kerja sama degan Pemprov Jateng dan kementerian terkait guna mewujudkannya.

Kesan selama ini, kata dia, padepokan tersebut hanya sebatas sebagai tempat bincang-bincang, media memperkenalkan ajaran, dan jati diri komunitas Samin kepada tamu atau wisatawan.

Keberadaan perpustakaan tersebut, kata dia, tentunya untuk menggairahkan budaya baca bagi anak warga Samin dan publik.

Nantinya, kata dia, untuk menghidupkan perpustakaan tersebut perlu melibatkan penerbit untuk menerbitkan karya-karya tentang Samin dan memasarkannya di padepokan atau dikelola oleh Karang Taruna atau organisasi pemuda di desa setempat.

“Harapannya, akan terjadi interaksi berbasis media bacaan. Nantinya wisatawan yang datang tidak hanya sekadar mendapat cerita, melainkan dapat membeli buku dan memahami jati diri komunitas Samin secara ilmiah,” ujarnya.(ant/BJ)