Home Lintas Jateng Gempa di Tegal Tidak Pengaruhi Aktivitas Gunung Slamet

Gempa di Tegal Tidak Pengaruhi Aktivitas Gunung Slamet

Ilustrasi

Ilustrasi

Purwokerto, 23/3 (BeritaJateng.net) – Gempa tektonik yang mengguncang Tegal, Jawa Tengah, pada Senin dini hari tidak mempengaruhi aktivitas Gunung Slamet yang saat ini berstatus “Waspada”, kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Sudrajat.

“Tadi malam memang ada gempa yang cukup besar dan terasa sampai di sini (Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang). Gempa itu tidak ada pengaruh secara langsung terhadap aktivitas Gunung Slamet,” kata Sudrajat saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa yang terjadi pada hari Senin (23/3), pukul 01.05 WIB, berkekuatan 4,9 Skala Richter yang berpusat di darat pada lokasi 6,85 lintang selatan dan 109,1 bujur timur atau 4 kilometer barat laut Tegal dengan kedalaman 14 kilometer, serta dirasakan II-III Modified Mercalli Intensity (MMI).

Kendati demikian, Sudrajat mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apakah gempa tersebut akan membawa pengaruh tidak langsung terhadap aktivitas Gunung Slamet.

“Akan tetapi sampai pagi ini tidak terpengaruh,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengakui bahwa Gunung Slamet yang berada di wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes mengalami peningkatan aktivitas sejak tanggal 18 Februari 2015.

Bahkan, kata dia, Gunung Slamet kembali memunculkan gempa tremor pada hari Sabtu (21/3), pukul 22.34-00.00 WIB, dan Minggu (22/3), pukul 00.00-04.50 WIB.

Disinggung mengenai kemungkinan gempa tremor tersebut berdampak pada munculnya letusan abu maupun lontaran material pijar, Sudrajat mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan hal itu.

“Kalau dilihat dari data-data memang cenderung meningkat tapi kita tidak tahu nanti akan seperti apa atau akan turun lagi. Kalau dari jumlah gempanya masih stabil, stabil yang tinggi,” katanya.

Ia mengatakan jika gas yang dikeluarkan Gunung Slamet melalui gempa embusan tetap teratur atau tidak perlu mendobrak kemungkinan akan reda dalam beberapa waktu ke depan.

Akan tetapi jika keluarnya gas itu tidak stabil, kata dia, bisa jadi bakal ada letusan abu.

“Potensi letusan masih ada,” katanya.

Berdasarkan data pengamatan visual yang dilakukan Pos PGA Slamet pada tanggal 21 Maret 2015, pukul 06.00 WIB, hingga 22 Maret 2015, pukul 06.00 WIB, Gunung Slamet terhalang kabut dan saat cerah teramati embusan asap putih sedang dengan ketinggian 300-500 meter.

Aktivitas kegempaan pada tanggal 21 Maret 2015 berupa gempa embusan sebanyak 949 kali dan gempa tremor yang terjadi pada pukul 22.34-00.00 WIB.

Sementara pada tanggal 22 Maret, pukul 06.00 WIB, hingga 23 Maret, pukul 06.00 WIB, Gunung Slamet secara visual terhalang kabut dan saat cerah teramati embusan asap putih tebal dengan ketinggian 200-500 meter.

Aktivitas kegempaan pada tanggal 22 Maret 2015 berupa gempa embusan sebanyak 784 kali dan gempa tremor yang terjadi pada pukul 00.00-04.50 WIB.

Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes kembali mengalami peningkatan aktivitas setelah lima tahun “tertidur” sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status gunung tertinggi di Jateng itu menjadi “Waspada” pada tanggal 10 Maret 2014, pukul 21.00 WIB.

Oleh karena aktivitasnya cenderung meningkat, PVMBG pada tanggal 30 April 2014, pukul 10.00 WIB, menaikkan status Gunung Slamet menjadi “Siaga”.

Setelah 12 hari berstatus “Siaga” dan aktivitasnya cenderung turun, PVMBG pada tanggal 12 Mei 2014, pukul 16.00 WIB, menurunkan status Gunung Slamet menjadi “Waspada”.

Akan tetapi sejak tanggal 12 Agustus 2014, pukul 10.00 WIB, status Gunung Slamet kembali dinaikkan menjadi “Siaga” karena aktivitasnya cenderung meningkat.

Setelah menunjukkan penurunan aktivitas cukup lama, PVMBG pada tanggal 5 Januari 2015, pukul 16.00 WIB, menurunkan status Gunung Slamet dari “Siaga” menjadi “Waspada”.

Saat berstatus “Waspada”, warga tidak boleh melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari puncak Gunung Slamet. (ant/BJ)