Home Lintas Jateng Ganjar Sandang Gelar Daeng Manaba 

Ganjar Sandang Gelar Daeng Manaba 

Ganjar Sandang Gelar Daeng Manaba 

Semarang, 1/8 (BeritaJateng.net) – Gedung Grhadika Bhakti Praja penuh warna, ratusan perempuan dan pria anggota Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dari beberapa kabupaten/ kota di Jawa Tengah tampak bersahaja mengenakan pakaian adat daerah mereka pada acara Festival Budaya Sulawesi Selatan.

Tidak tanggung-tanggung, 10 raja dan permaisurinya pun tampak hadir lengkap dengan busana kebesarannya. Mereka adalah Raja Gowa ke-37 diwakili oleh Karaeng Tumlalang Lolo H Andi Baso Machmud, Andi Baso Hamid, Dattu Soppeng Andi Tantu Datu Galib, Datu Suppa Andi Abdullah Bau Massepe, Karaeng Borisallo Hatta Hamzah Karaeng Gajang, Karaeng Galesong H Mallarangan Daeng Gassing, Karaeng Sanrobone Ali Mallombasing Daeng Nyengka, Karaeng Tallo H A Rauf Maro Karaeng Rewa, Karaeng Laikang Takalar H Andi Sukwansyah Karaeng Nojeng, dan Karaeng Ternate Andi Rahmar Ansaruddin.

Pada acara tersebut anggota KKSS tidak hanya melepas rindu dengan tradisi mereka. Mereka juga menyaksikan prosesi penganugerahan gelar adat Sulawesi Selatan “Daeng Manaba”. Gelar adat diberikan setelah kesepuluh raja Sulawesi Selatan menggelar rapat tertutup di Hotel Kesambi.

Ganjar Sandang Gelar Daeng Manaba 
Ganjar Sandang Gelar Daeng Manaba

Penganugerahan gelar ditandai dengan penyerahan keris dari Gubernur Sulawesi Selatan H Syahrul Yasin Limpo kepada Gubernur Ganjar Pranowo. Selain Ganjar, sang istri Hj Siti Atikoh pun memeroleh gelar adat “Daeng Macenning”.

Menurut Syahrul, “Daeng Manaba” bukanlah sembarang gelar adat. Pasalnya, gelar tersebut hanya diberikan kepada seseorang yang tutur kata dan perilakunya dipandang sebagai teladan bagi masyarakat di sekelilingnya.

“Penilaian terhadap Pak Ganjar sebenarnya adalah penilaian yang tidak dibuat-dibuat. Tidak sekedar simbolik,” ujarnya saat menghadiri prosesi penganugerahan gelar adat itu.

Ditambahkan, gelar adat “Daeng Macenning” yang diberikan kepada Hj Siti Atikoh berarti tutur kata dan perilaku yang manis. Dengan disematkannya kedua gelar adat itu, Ganjar dan istri resmi menjadi warga kehormatan Sulawesi Selatan.

Syahrul membeberkan, masyarakat Bugis-Makassar dikenal sangat memegang teguh tradisinya. Meski mencintai adat istiadat, masyarakat Bugis-Makassar tidak gentar memerjuangkan cita-citanya. Mereka siap merantau untuk mewujudkan asa, seperti para anggota KKSS di Jawa Tengah.

Gubernur Ganjar Pranowo merasa bangga atas penganugerahan gelar adat tersebut.  Menurutnya, acara festival budaya dan penganugerahan gelar adat itu merupakan bukti anak bangsa mampu memertahankan NKRI melalui tradisi.

“Sebuah kehormatan bagi saya, istri, dan keluarga menjadi saudara bagi warga Sulawesi Selatan. Ketika anak bangsa cekcok soal suku, jadul itu. Anak bangsa yang sebenarnya seperti hari ini. Anak bangsa lahir dari suku yang bermacam-macam. Relasi budaya  bisa menjadi contoh bahwa kitalah yang merawat Indonesia sekarang dan seterusnya,” tutur orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Selain penganugerahan gelar adat, festival budaya tersebut memertontokan salah satu tarian adat Sulawesi Selatan. Yakni Tari Bissu Bone Ma’giri. Serupa dengan debus, sejumlah penari menunjukkan aksi kekebalan tubuh mereka menggunakan keris (sele’). Ada pula pagelaran busana pengantin adat Sulawesi Selatan.

Festival budaya dan prosesi penganugerahan gelar adat itu juga disaksikan Ibunda Presiden H Ir Joko Widodo Sujiatmo Notomiharjo, Walikota Semarang Hendrar Prihadi SE MM, dan Forkopimda Jateng. Hadir pula mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah Dra Hj Rustriningsih MSi yang menikah dengan pria keturunan Sulawesi Selatan Soni Achmad Saleh Ashar. (Bj05)