Home Ekbis Ganjar Minta OJK Beri Edukasi dan Literasi Keuangan Masyarakat

Ganjar Minta OJK Beri Edukasi dan Literasi Keuangan Masyarakat

foto bersama usai meresmikan gedung OJK Regional 3 Jateng-DIY

Semarang, 17/2 (BeritaJateng.net) – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperluas jaringan informasi terkait literasi keuangan kepada masyarakat.

“Kalau OJK bisa buka jaringan informasi yang sifatnya reguler atau terus-menerus diberikan maka masyarakat akan memperoleh informasi yang dibutuhkan,” katanya pada peresmian Kantor OJK Kantor Regional III Jawa Tengah dan DIY di Semarang, Jumat.

Dia mengatakan OJK beserta produknya perlu dipopulerkan melalui teknologi informasi salah satunya media sosial.

“Saya mengapresiasi OJK sudah masuk ke era informasi yang populer yaitu media sosial. Dengan ini masyarakat bisa langsung bertanya, ini ada investasi seperti ini benar atau tidak. Pada dasarnya masyarakat perlu diberikan edukasi untuk menghindari investasi yang tidak jelas,” katanya.

Dia berharap jangan sampai ada informasi sesat yang beredar di kalangan masyarakat yang akhirnya berpotensi merugikan masyarakat itu sendiri.

“Sering kali ada investor abal-abal bergentayangan di bawah. Dalam hal ini saya berharap adanya binaan dan bimbingan dari OJK kepada industri keuangan agar bisa kontrol kondisi keuangan yang ada di bawah sehingga bisa mensupport,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan beberapa bulan terakhir ini sering melakukan “roadshow” ke sejumlah daerah dalam rangka meresmikan gedung OJK Kantor Regional.

“Pada dasarnya keberadaan OJK di setiap daerah penting untuk menyosialisasikan dan mengedukasi keuangan kepada masyarakat,” katanya.

Menurut dia edukasi perlu diberikan agar masyarakat tidak mudah dirugikan oleh tawaran investasi uang dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Akhir-akhir ini banyak mobilisasi dana ke masyarakat dari lembaga tidak berizin. Dengan iming-iming bunga investasi 10 persen/bulan. Mereka mau mencari pinjaman dari bank dengan bunga 12 persen/tahun demi bisa memperoleh bunga investasi 10 persen/bulan. Padahal tidak mungkin ada investasi dengan keuntungan sebesar itu setiap bulannya. Akhirnya bisnis ini seperti mekanisme yang tutup lubang gali lubang,” katanya. (El)

Advertisements