Home Kesehatan Ganjar Ingin LeGePe dan FNS Bantu Masalah Jamban dan Keterbukaaan Informasi

Ganjar Ingin LeGePe dan FNS Bantu Masalah Jamban dan Keterbukaaan Informasi

Ganjar Ingin LeGePe dan FNS Bantu Masalah Jamban dan Keterbukaaan Informasi

Semarang, 25/10 (BeritaJateng.net) – Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP menyambut baik adanya kerjasama MoU antara Friedrich Naumann Stiftung (FNS) dengan Lembaga Gerak Pemberfayaan (LeGePe) terkait pendidikan kewarganegaraan di Jawa Tengah.

Menurutnya partisipasi pihak lain selain pemerintah sangat diperlukan karena adanya keterbatasan pemerintah di dalam memberikan pelatihan maupun pendidikan kepada warganya.

“Saya terima kasih karena sudah dibantu beberapa hal. Saya kira ini sangat baik ketika negara tidak mampu secara langsung untuk bisa melatih,” katanya saat memberikan pengarahan pada acara Penandatanganan Memorandum Saling Pengertian ‘Pendidikan Kewarganegaraan di Jawa Tengah’ antara FNS dengan LeGePe di Puri Gedeh, Selasa (25/10).

Kerjasama tersebut diyakini Ganjar akan membuahkan hasil yang cukup optimal karena rekam jejak FNS dalam membangun kerjasama di Indonesia sudah terbukti keberhasilannya, salah satunya di Wonosobo saat memberikan pelatihan pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM). Sehingga membuat Wonosobo ditetap sebagai Kota Ramah HAM.

“Metode penyampaiannya saya kira memiliki suatu konsep yang bagus karena lokalitasnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” tuturnya.

Ganjar Ingin LeGePe dan FNS Bantu Masalah Jamban dan Keterbukaaan Informasi
Ganjar Ingin LeGePe dan FNS Bantu Masalah Jamban dan Keterbukaaan Informasi

Politisi PDIP ini berharap kerjasama antara FNS dengan LeGePe nantinya tidak hanya terfokus di bidang politik saja namun bisa masuk ke permasalahan yang selama ini ada di tengah masyarakat dan mendesak untuk diselesaikan, diantaranya hak untuk bisa sehat, hak untuk melapor, dan hak untuk mendapatkan informasi.

“Kita boleh bicara HAM dan saling menghormati, tapi jika belum ada hak untuk bisa sehat, hak untuk melapor, dan hak untuk mendapatkan informasi itu belum cukup. Di Wonosobo saya datang ke suatu desa, kemudian saya tanya siapa yang tidak punya wc, tidak punya akses jamban? Jawabnya ada 70 persen. Maka pemerintah saya giring ke situ karena itu hak warga. Kalau mungkin LeGePe juga bisa masuk kesana saya pikir akan sangat baik sekali,” ujarnya.

Masalah jambanisasi dan kanal informasi, imbuh Ganjar, masih menjadi permasalahan yang banyak terjadi. Tidak hanya di Wonosobo, banyak desa di Jawa Tengah yang warganya belum memiliki jamban. Sehingga tingkat kesehatan warganya sangat rendah.

Sementara kanal informasi sebagai tempat warga mengadu dan memberikan laporan secara langsung kepada pemerintah daerah juga belum seluruh dibuka. Bahkan saat melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah, dirinya selalu mendorong pemerintah daerah membuat sistem informasi melalui sms, telpon, media sosial, dan sebagainya.

Head of Office FNS Moritz Peter Kleine-Brockhoff mengatakan mengatakan Jawa Tengah menjadi provinsi yang sangat special karena pihaknya sudah sering kali melakukan kerjasama dengan beberapa pihak. Diantaranya, di Semarang FNS pernah melakukan kerjasama pelatihan pendidikan demokrasi untuk siswa-siswa SMA di tahun 2010-2013. Sedang di Wonosobo bekerjasama dengan Kemenkumham dalam bidang pendidikan HAM untuk PNS, guru, dan masyarakat.

“Central java is a special place for us, for FNS. In fact, here in Semarang we have democracy education in high school for2010-2013 with local high school education board,” katanya.

Untuk kerjasama antara FNS dengan LeGePe sendiri, sambung Moritz, masih memfokuskan kerjasama pelatihan di bidang politik. Dirinya menyampaikan saat ini sudah melakukan beberapa workshop di beberapa daerah, seperti Purwokerto, Pati, Pemalang, Salatiga dengan tema ‘Politics is Beautiful’. Tema tersebut diambil karena masih banyak masyarakat yang takut untuk berpolitik, padahal politik tidak harus ditakuti karena politik ada diseluruh bidang kehidupan.

“The title of the workshops are ‘Politic Is Beautiful’. I really like the title because some of us are afraid of politics. But it’s not something to be afraid of, it’s something to be revolve,” ujarnya.

Dirinya berharap ke depan kerjasama ini akan terus berlanjut. Tidak hanya di bidang politik saja, namun bisa masuk ke bidang-bidang lainnya.

Pada kesempatan yang sama Ketua LeGePe Sunaryo menyampaikan kerjasama dengan FNS memang difokuskan di bidang politik karena merupakan visi penting dari provinsi Jawa Tengah. Namun kedepan akan dilakukan monitoring da evaluasi agar dapat memperbaiki pola kerjasama yang sudah ada. (Bj)

Advertisements

Comments are closed.