Home News Update Ganjar akan Terapkan Desa Tangguh Bencana

Ganjar akan Terapkan Desa Tangguh Bencana

Ganjar Pranowo

Ganjar-Pranowo

Semarang, 23/2 (BeritaJateng.net) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana menerapkan program desa tangguh bencana secara bertahap di semua desa di Jateng guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai bencana alam.

“Ada enam desa yang akan menjadi ‘pilot project’ program desa tangguh bencana di antaranya di Desa Widoropayung, Cilacap, Desa Taman Agung, Magelang, dan Desa Balerante, Klaten,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang, Senin.

Hal tersebut disampaikan Ganjar usai membuka rapat koordinasi sinkronisasi program desa berdikari, desa tangguh bencana, dan sistem informasi desa di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng yang diikuti oleh wakil dari 35 kabupaten/kota.

Menurut Ganjar, Pemprov Jateng akan mengalokasikan anggaran, membuat regulasi, dan memberikan pelatihan kepada masyarakat terkait dengan rencana penerapan program desa tangguh bencana.

“Kalau ini (desa tangguh bencana, red) bisa berjalan baik akan direplikasikan ke seluruh desa di Jateng secara bertahap,” ujarnya didampingi Kepala Pelaksana Harian BPBD Sarwa Pramana.

Ia menjelaskan bahwa program desa tangguh bencana dilatarbelakangi kenyataan bahwa wilayah Provinsi Jateng terjadi berbagai jenis bencana alam.

“Saat ini, sistemnya, kesiapsiagaan, pengurangan resiko sedang kita bangun dengan harapan ada pertukaran pengalaman dari kabupaten/kota, termasuk lembaga-lembaga peduli bencana,” katanya.

Ganjar berharap dengan adanya program desa tangguh bencana ini maka setiap masyarakat desa sudah siap jika terjadi bencana alam.

“Siap mengerti sistemnya, alat apa yang digunakan, dan ada orang atau sumber daya manusia yang siap mengelola serta menjaga alat ‘early warning system’,” ujarnya.

Menurut dia, pelibatan masyarakat secara langsung dalam mengantisipasi terjadinya bencana dan jatuhnya korban menjadi sangat penting.

“Kalau setiap desa ada satu kelompok yang terlatih betul membaca tanda-tanda bencana alam melalui kearifan lokal masing-masing daerah, maka akan lebih baik,” katanya. (ant/BJ)