Home Hiburan Festival Patjarmerah Usung Toleransi dalam Berkarya

Festival Patjarmerah Usung Toleransi dalam Berkarya

215
Patjarmerah Hadir di Kota Lama Semarang

Semarang, 3/12 (BeritaJateng.net) – Sebuah festival literasi yang mengusung nama “patjarmerah” telah berlangsung sejak 29 November lalu, hingga 8 Desember mendatang mengambil salah satu tema yang sedang banyak didiskusikan saat ini; toleransi. Berlangsung di dua bangunan di Kota Lama, Monod Diepheuis & Co dan Soesman Kantoor, pasar buku keliling nusantara ini membawa puluhan pengisi acara dan lebih dari sejuta buku.

Setelah tiga hari sebelumnya mendiskusikan ragam tema dalam dunia literasi, mulai dari fotografi, kuliner, film dokumenter, penulisan sejarah, penjenamaan pribadi (persolan branding), hingga literasi kuliner, hari keempat ini, patjarmerah akan menggelar dua obrolan terkait literasi.

Akan hadir dua penulis yang banyak mengangkat dan mengampanyekan toleransi dalam karya-karyanya. Ada Kalis Mardiasih, salah satu penulis perempuan muda Indonesia yang banyak menyinggung keberagaman, beragama secara moderat, terbuka dan saling menghargai. Buku terbaru Kalis adalah “Muslimah yang Diperdebatkan”, banyak dibicarakan, dikritisi dan jadi rujukan untuk beberapa studi tentang kebhinekaan.

Prof. Mudjahirin Thohir, seorang Guru Besar di Universitas DIponegoro dan penulis  juga telah banyak menulis buku dan kajian keagamaan, Orang Islam Jawa Pesisir, Talbiyah di Atas Ka’bah, Multi-kulturalisme Agama, Budaya, dan Sastra serta banyak judul lainnya.

Bersama kedua penulis ini, patjarmerah ingin mengajak pengunjung mengobrol dan menyikapi perbedaan dengan santai tanpa mengabaikan hal-hal fundamental dari sebuah keyakinan dan peradaban. Jika Tuhan mencintai keseragaman, mengapa pula ia menciptakan kehidupan yang sarat keberagaman?

Selanjutnya akan ada juga acara yang diisi oleh Rizky Febryan dan Kalis Mardiasih dan Yoshi Fe, dalam acara Melupakan Aturan Menulis.  Dalam sebuah karya tulis, penulis -dan calon penulis- dihadapkan dengan banyaknya kaidah yang harus dipahami; kesepakatan turun temurun, yang anehnya kadang berubah dengan begitu cepat, membingungkan bagi mereka yang ingin memperdalam kemampuannya dalam menulis.

Ramainya aturan-aturan yang ada kadang membuat surut semangat, padahal bahasa adalah sesuatu yang bergerak, ia berkembang seiring zaman. Maka ambilah tempat terdepan, bersama Rizky Febryan (MediaKita), Kalis Mardiasih (Buku Mojok), dan Yoshi Fe (GPU) patjarmerah akan  sejenak mengajak untuk lupakan apa yang telah kita ketahui, karena jangan-jangan dalam menulis istilah ‘aturan dibuat untuk dilanggar’ itu berlaku.

Hingga 8 Desember mendatang, patjarmerah akan masih terus berlangsung di Monod Dephueis dan Soesman Kantoor. Sebanyak lebih dari 8000 judul dengan jumlah buku lebih dari satu juta, patjarmerah ingin menghadirkan kesetaraan akses terhadapa literasi di Indonesia. Mengusung nama festival kecil literasi dan pasar buku keliling nusantara, patjarmerah  ingin melawan mitos bahwa tingkat baca Indonesia rendah. Dengan menghadirkan buku lebih banyak, lebih terjangkau, mitos tentang hal tersebut semestinya bisa dipecahkan. (El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here