Home News Update Episode Pertama Penundaan Pelantikan Budi Gunawan

Episode Pertama Penundaan Pelantikan Budi Gunawan

Komjen Budi Gunawan.foto/Ist

Komjen Budi Gunawan

Laporan Khusus

“Tadi sore telah saya tanda tangani dua Keppres, dua keputusan Presiden,” ucap Presiden Joko Widodo mengawali keterangan pers di Istana Merdeka Jakarta, Jumat (16/1) malam.

Keterangan pers Presiden pada malam itu merupakan jawaban yang ditunggu-tunggu, baik oleh media massa maupun masyarakat terkait pencalonan Komisaris Jenderal (Pol) Budi Gunawan sebagai Kapolri yang sudah mendapat persetujuan DPR RI sehari sebelumnya, Kamis (15/1).

Di ruang Credential Istana Merdeka, Presiden Joko Widodo yang mengenakan kemeja batik lengan panjang warna abu-abu itu ditemani Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman dan Wakapolri Komjen Badrodin Haiti.

“Keppres pertama tentang pemberhentian dengan hormat Jenderal (Pol) Sutarman sebagai Kapolri dan Keppres yang kedua tentang penugasan Wakapolri Komjen (Pol) Badrodin Haiti untuk melaksanakan tugas dan wewenang tanggung jawab Kapolri,” kata Presiden Joko Widodo.

Hampir 12 jam sebelumnya, pukul 08.20 WIB, Komjen Budi Gunawan datang di Kompleks Istana Presiden. Kedatangannya membuat sejumlah wartawan yang hendak meliput acara silaturahmi Presiden dengan petani di Istana Negara pada pukul 09.00 WIB kaget, beberapa wartawan yang ada di pintu masuk menuju ring I Istana Presiden kemudian mendekatinya, meski tak ada komentar yang terlontar dari pria yang menjabat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Lemdiklat) Polri tersebut.

Jam menunjukkan pukul 08.40 WIB ketika kemudian Kapolri Jenderal Sutarman keluar dari Kompleks Istana Presiden dan langsung menuju mobil yang terparkir di halaman antara Istana Negara dengan gedung Bina Graha. Lagi-lagi, tak ada komentar dari pria yang menjabat Kapolri sejak Oktober 2013 itu.

Selain Jenderal Sutarman dan Komjen Budi Gunawan, para wartawan juga memperkirakan kehadiran Wakapolri Komjen Badrodin Haiti di Istana pagi itu dari nomor kendaraan dinas yang terparkir tak jauh dari mobil dinas Kapolri terparkir. Saat menjelang siang, mobil dua mobil berpelat dinas itu kemudian meninggalkan kompleks Istana Presiden.

Sementara itu, acara silaturahmi dengan petani pelopor dan juga para teladan di bidang pertanian yang digelar di Istana Negara pada pukul 09.10 WIB dibuka oleh Menko Perekonomian Sofyan Djalil yang ditemani oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono.

Presiden kemudian hadir di ruang tengah Istana Negara tempat acara silaturahmi dengan petani pemenang Adhikarya Pangan Nusantara (APN) dan pemenang pemilihan petugas operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dan rawa teladan tingkat nasional pada pukul 10.00 WIB dan langsung menyapa para petani dan undangan yang hadir.

“Mohon maaf ada urusan yang… sehingga saya telepon Pak Menko dan Menteri Pertanian dan Menteri Pekerjaan Umum, tolong saya digantikan terlebih dahulu barang satu jam..,” tutur Presiden.

“Ini (mengundang petani ke Istana) memenuhi janji saya di Subang, saat itu saya tidak berpikir, nanti kita semua kita kumpulkan di dekat sawah, tahu lapangan dan tempat yang berkaitan dengan program itu saya senang, ternyata saya salah, ternyata bapak ibu ingin masuk ke Istana Negara, masak setiap hari di sawah, masak di sawah lagi, sekarang sudah di Istana Negara seperti ini, nanti bisa foto-foto di depan, kalau ke sini kepala negara dari mancanegara, gubernur, walikota, senengnya kalau bisa foto di depan,” kata Presiden yang kemudian diikuti tepuk tangan para undangan yang hadir.

Sabar masih berproses Pukul 14.00 WIB, Presiden didampingi Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Sudirman Said dan Seskab Andi Widjajanto di halaman tengah kompleks Istana Presiden Jakarta menyampaikan keterangan pers mengenai perubahan harga jual bahan bakar minyak jenis premium dan solar, penurunan harga jual elpiji 12 kg dan harga jual semen produksi Semen Indonesia yang berlaku pada Senin (19/1).

“Yang pertama mengenai premium mulai nanti Minggu (18/1) pukul 24.00 WIB atau Senin (19/1) pukul 00.00 WIB harga premium turun menjadi Rp6.600 per liter sementara harga solar menjadi Rp6.400,” kata Presiden Joko Widodo dalam keterangan pers di halaman tengah Kompleks Istana Presiden, Jumat siang.

Harga jual bahan bakar jenis premium sebelumnya Rp7.600 sementara solar Rp7.200.

Selain menurunkan harga jual bahan bakar jenis premium dan solar, pemerintah juga menurunkan harga jual gas Elpiji 12 kg dari Rp140.000 menjadi Rp129.000.

“Yang kedua elpiji 12 kg menjadi Rp129.000. Yang ketiga semen yang diproduksi BUMN kita (PT Semen Indonesia-red), turun Rp3.000 per sak,” kata Presiden.

Saat keterangan pers berlangsung di halaman yang berada di antara Istana Merdeka dan Istana Negara itu, hampir luput dari perhatian wartawan, politisi asal PDI Perjuangan, Pramono Anung tiba di Kompleks Istana Presiden.

Setelah bertemu Presiden Joko Widodo, politisi senior itu mengatakan diminta datang untuk berdiskusi mengenai proses pengajuan calon Kapolri di DPR RI.

“Tentunya Presiden mempunyai kebijakan dan sebagainya. Maka dalam kesemepatan tadi, diskusi dilakukan, kebetulan saya bersama-sama dengan Menkumham, jadi beberapa hal yang terjadi di dewan tentunya beliau juga ingin mengetahui yang sebenarrnya. Jadi sekaligus dilihat dari ketatanegaraan karena DPR sudah memutuskan maka, secara ketatanegaraan perlu ada proses lebih lanjut. Itu kewenangan sepenuhnya presiden, kami tidak ingin ikut campur, tapi tentunya Presiden minta pandangan saya sebagai pribadi yang pernah jadi pimpinan dewan dan pengalaman berbagai hal, maka harus ada jalan keluarnya,” katanya.

Meski demikian, Pramono tidak menyampaikan kepada wartawan, apa pandangan yang diberikan kepada Presiden terkait hal tersebut.

“Saya diundang sebagai pribadi, karena pengalaman yang saya miliki dan sekali lagi yang saya sudah sampaikan pada Presiden tidak etis saya sampaikan ke publik. Tapi apapun presiden. Perlu untuk hormati hubungan antar-lembaga tinggi negara,” katanya.

Sementara itu Presiden Joko Widodo setelah memaparkan tentang kebijakan perubahan harga jual bahan bakar minyak kepada wartawan, meminta semua kalangan untuk bersabar dan menunggu karena Istana masih memproses perihal pencalonan Kapolri yang baru pascapersetujuan DPR atas Komjen Budi Gunawan.

“Mengenai Kapolri tadi malam sudah saya terima surat dari DPR RI pagi tadi proses di Sekretariat Negara, sabar dan tunggu,” katanya.

Ditunda Bukan Dibatalkan Malam mulai menyelimuti kompleks Istana Presiden Jakarta, ketika waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB saat Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno tiba di kompleks jantung pemerintahan RI tersebut.

Beberapa jam sebelumnya, pada Jumat sore, dikabarkan Komjen Bardorin Haiti ditugaskan untuk melaksanakan tugas sehari-hari Kapolri.

“Dalam surat Presiden dinyatakan penunjukan dan pemberhentian Kapolri itu satu paket. Jadi, tugas sehari-hari Kapolri dilaksanakan oleh Wakapolri,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Polri Kombes Pol Agus Rianto di Jakarta, Jumat (16/1) sore.

Dalam surat Presiden Joko Widodo kepada DPR pada 9 Januari 2015 perihal “Pemberhentian dan Pengangkatan Kapolri” disebutkan presiden meminta persetujuan DPR untuk mengangkat Komjen Pol Budi Gunawan menjadi Kapolri baru dan memberhentikan Jenderal Pol Sutarman.

Dengan demikian, menurut Agus, saat Komjen Budi Gunawan telah dinyatakan lulus dalam uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri di Komisi III DPR, maka otomatis Jenderal Pol Sutarman hanya sebagai Kapolri nonaktif.

Pada pukul 20.10 WIB akhirnya teka-teki sepanjang Jumat itu atas bagaimana kelanjutan proses pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri terjawab saat Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan persnya.

“Juga perlu saya sampaikan sejak proses dari seleksi Kompolnas dari kemudian diajukan surat ke DPR kemudian persetujuan dari DPR, berhubung Komjen Budi Gunawan sedang menjalani proses hukum, maka kami pandang perlu untuk menunda pengangkatan sebagai kepala Polri, jadi menunda bukan membatalkan ini yang digarisbawahi,” kata Presiden.

Baik Sutarman dan Badrodin Haiti yang mendampingi Presiden malam itu menyatakan loyal atas keputusan Presiden dan mengharapkan Polri tetap solid dan seluruh anggota kepolisian negara terus menjalankan tugasnya dengan baik.

Sutarman yang menegaskan bahwa sejak malam itu, tugas-tugas Kapolri dilaksanakan oleh Komjen Badrodin Haiti.

“Mulai detik ini seluruh kegiatan pembina dan operasional sudah beralih ke Wakapolri, (termasuk-red) acara seremonial di Polri. Ini (juga-red) pemberitahuan pada anggota Polri dimana pun bertugas, pembinaan dan operasional (dilaksanakan-red) oleh Wakapolri (selaku pelaksana tugas Kapolri-red),” tegasnya.

“Terima kasih berdasarkan keputusan Presiden saya selaku Wakapolri melaksanakan tugas dan wewenang tangung jawab Kapolri, karena memang tidak boleh ada kekosongan pimpinan, bagian tugas Wakapolri ketika Kapolri berhalangan dan melaksanakan tugas sehari-hari, saya ajak semua jajaran Polri dan komponen masyarakat untuk bisa laksanakan tugas Polri dengan sebaik-baiknya,” papar Badrodin Haiti kemudian pada wartawan.

Setelah keterangan pers dari Presiden usai, Komjen Budi Gunawan meninggalkan kompleks Istana Presiden dan tidak berkomentar pada wartawan.

Malam semakin larut dan kemudian Jakarta diguyur hujan yang sudah tertahan sejak sore hari, satu episode hari pun terlewati sudah. (Ant/BJ)