Home Headline Enam Gunung Api Siaga dan 14 Waspada

Enam Gunung Api Siaga dan 14 Waspada

Semarang, 27/12 (Beritajateng.net) – Gunung Soputan yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara dinaikkan statusnya oleh PVMBG Badan Geologi dari Waspada (level 2) menjadi Siaga (level 3) terhitung mulai Jumat (26/12) pukul 03.00 Wita.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengatakan, kenaikan ini didasarkan pada pengamatan visual terhadap G. Soputan yang teramati asap berwarna putih tipis–sedang, tinggi berkisar 50 – 200 m. Kegempaan G. Soputan menunjukkan adanya peningkatan.

“Masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas di dalam radius 6,5 km dari puncak G. Soputan. Belum perlu ada pengungsian karena penduduk terdekat berada pada berjarak 8 km dari puncak,” ujar Sutopo.

Dengan demikian lanjut Sutopo, saat ini ada 6 status Siaga yaitu G. Gamalama, G. Slamet, G. Sinabung, G. Karangetang, G. Lokon, dan G. Soputan.

“Kenaikan status gunung ini tidak terjadi secara bersamaan tetapi tergantung pada aktivitas gunung masing-masing, misal G.Lokon berstatus Siaga sejak 24-7-2011 hingga sekarang, G.Karangetang sejak 3-9-2013, sedangkan G. Gamalama (18/12), G.Slamet (12/8), dan G.Sinabung (8-4-2014). Status Siaga artinya gunung sedang bergerak ke arah letusan, adanya peningkatan intensif seismik, dan semua data menunjukkan aktivitas segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana,” terangnya.

Sementara itu, 14 gunung status Waspada adalah G. Raung, Sangeangapi, Rokatenda, Ibu, Lewotobi Perempuan, Gamkonora, Papandayan, Bromo, Semeru, Talang, Anak Krakatau, Marapi, Dukono, dan Kerinci. Arti status Waspada adalah ada kenaikan aktivitas seismic dan kejadian vulkanik lainnya di atas level normal.

“Masyarakat dihimbau meningkatkan kesiapsiagaan dan mematuhi rekomendasi pemerintah. Jangan beraktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan PVMBG. Masyarakat yang akan merayakan tahun baru 2015 dengan mendaki gunung, hendaknya mentaati larangan. Tanyakan pada petugas pos pengamatan gunungapi atau BPBD setempat,” pungkas Sutopo. (BJ)

Advertisements