Home Headline Eksekusi Rumah Nyaris Ricuh

Eksekusi Rumah Nyaris Ricuh

sengketaKudus, 24/2 (Beritajateng.net)-Eksekusi sebidang tanah dan rumah di Desa Bulungcangkring RT 01/ RW 06 yang saat sekarang di tempati keluarga Soejono (65), nyaris terjadi bentrok. Pasalnya, pemilik rumah minta waktu untuk mengosongkan sendiri, bukan keluar secara paksa.

Mediasi antara pemilik lama (termohon) dengan pemilik baru (pemohon) yang dilakukan di Balai Desa setempat, berjalan cukup alot. Pertemuan yang difasilitasi pemerintah desa dan tim eksekutor dari PN Kudus, sempat terjadi tawar menawar waktu pengosongan obyek sengketa.

Keluarga Soejono yang diwakili anak-anaknya, minta waktu satu bulan untuk mengosongkan sendiri. Sementara, pemilik rumah yakni keluarga Luluk Sri Wahyuni (45) yang diwakili kuasa hukumnya Yusuf Istanto, tetap menuntut pengosongan hari ini juga (24/2).

”Permintaan waktu oleh pemilik lama dari satu bulan, turun dua minggu bahkan sampai tiga hari tidak disetujui pemohon. Karena pengosongan didasari ketetapan pengadilan, mau tidak mau harus dikosongkan saat itu juga,” jelas Panitera Muda Perdata PN Kudus, M Achlis ditemui Beritajateng.net disela kegiatan pengosongan.

Sementara itu menurut Yusuf Istanto, pemilikan sertifikat hak milik tanah nomor 1828 awalnya atas nama Soejono. Sekitar tahun 2008, Soejono terikat hutang piutang dengan seseorang bernama Wakit.

”Entah karena apa, pada tahun 2009 keduanya terjadi kesepakatan jual beli di hadapan salah satu notaris di Kudus. Informasinya, tanah tersebut dibeli Wakit seharga yang sudah disepakati keduanya dipotong tanggungan hutang penjual kepada pembeli,” jelasnya.

Setelah sertifikat beralih menjadi milik Wakit, lanjutnya, sekitar tahun 2010 tanah tersebut dibeli klien saya dan sejak saat itu sertifikat nomor 1828 menjadi milik Luluk Sri Wahyuni. Karena merasa memiliki, sekitar tahun 2012 pemilik yang baru minta tanah tersebut dikosongkan tetapi pemilik yang lama menolak.

Bukan hanya menolak, katanya, untuk mempertahankan tanah tersebut, pemilik lama sempat melaporkan kliennya ke polisi dengan tudingan melakukan penyerobotan. Karena alasan dan bukti-buktinya tidak mendukung, laporan tersebut tidak bisa diproses.

Sebelum dilakukan eksekusi, lanjutnya, kliennya sudah menawarkan pindah dengan kompensasi dikontrakkan rumah selama dua tahun. Hanya saja, tawaran tersebut ditolak dan pemilik lama memilih bertahan.

Sementara itu menurut Kapolsek Jekulo AKP Mardi Susanto menegaskan, acara eksekusi tersebut tidak ada indikasi ricuh. Ditanya soal banyaknya masa yang mengenakan pita merah di lengan kanan yang ada disekitar lokasi obyek sengketa, menurutnya orang-orang yang dipersiapkan pemohon untuk melakukan pembongkaran.

”Saat mediasi di Balai Desa antara pemilik lama dengan pemilik baru memang sempat tegang, tetapi keputusan dalam acara mediasi tersebut dihormati oleh kedua belah pihak sehingga ketika dilakukan eksekusi berjalan aman dan lancer,” tegasnya. (BJ12)