Home Headline Eksekusi Pembongkaran 20 Rumah di Karangsari Ngaliyan Ricuh

Eksekusi Pembongkaran 20 Rumah di Karangsari Ngaliyan Ricuh

Eksekusi Pembongkaran 20 Rumah di Karangsarin Ngaliyan Ricuh

Semarang, 8/7 (BeritaJateng.net) – Eksekusi pembongkaran 20 rumah di Kampung Karangsari, Jalan Kamajaya Raya, Ngaliyan oleh Satpol PP Kota Semarang berakhir ricuh.

Kericuhan terjadi sejak di pintu masuk kampung tersebut. Warga berusaha menghadang petugas Satpol PP dengan menutup akses menggunakan sejumlah alat beratm

Warga berdiri di depan ban bekas yang menghalangi petugas. Namun usaha itu sia-sia lantaran petugas Satpol PP dengan sigap menyingkirkan ban bekas dan warga.

Dua alat berat begu pun dengan leluasa masuk ke dalam kawasan yang akan dirobohkan. Saat akan merobohkan 20 rumah di tiga titik berbeda, lagi lagi kericuhan terjadi.

Sejumlah warga berteriak mempertanyakan surat perintah perobohan dan kepemilikan tanah. Namun lagi lagi usaha itu sia sia lantaran petugas membubarkan kericuhan itu dengan menggunakan dua anjing pelacak yang sangat ganas berjenis German Sheperd.

Petugaspun kemudian merobohkan semua bangunan menggunakan dua begu. Selama perobohan, warga dihalangi mendekat dengan cara petugas Satpol PP membentuk pagar betis. Tampak seorang ibu membawa bayi yang menangis untuk memohon agar rumahnya tak dirobohkan.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan 20 rumah yang berdiri diatas tanah seluas 9000 meter persegi itu dirobohkan karena tak memiliki Ijin mendirikan bangunan (IMB).

“Perobohan ini mengacu keputusan PTUN nomor 12/B/2021 PTUN. Ini sengketanya sudah sejak setahunan yang lalu,” kata Fajar, Rabu (7/7).

Perobohan ini, kata dia, sudah didahului dengan surat pemberitahuan pada Februari 2021. Saat itu, lanjutnya, ada unsur Komnas HAM yang membantu mediasi antara warga, Pemerintah Kota dan pemilik tanah yang sah.

“PTUN sendiri menyatakan tanah ini milik Ryan Wibowo. Makanya 7 hari sebelum hari ini sudah kita lakukam somasi. Kemudian hari ini kita bongkar.
diwa.gimpa.edu.gh/wp-content/languages/new/cheap-essays.html

Warga juga engga punya sertifikat apapun,” jelasnya.

Pemilik tanah yang sah, kata dia, sudah berpuluh puluh tahun kesulitan menempati tanahnya karena ditempati oleh warga.

“Dari dulu pemilik tanah ndak bisa menempati. Polemik polemik terus,” terang dia.

Sebagian warga, kata dia, sudah ada yang menerima tali asih. Namun ada juga yang menolak tali asih.

“Yang terima tali asih berkisar 10 sampai 20 jutaan.
diwa.gimpa.edu.gh/wp-content/languages/new/get-paid-to-write-papers.html

Kalau yang menolak ini karena mereka beranggapan bakal menang di PTUN,” tandas Fajar.

Sementara itu, salah seorang warga setempat bernama Mustakim (42) mengaku tak terima adanya pembongkaran ini. Dia mengklaim pengadilan belum menjatuhkan keputusan akhir.

“Pengadilan belum menyatakan keputusannya. Tapi kenyataannya kok kayak gini, rumah warga dihancurkan. Keadilan dari mana. Ndak punya kemanusiaan,” katanya.

Dia mengaku Sudah lama tinggal di tempat itu.
diwa.gimpa.edu.gh/wp-content/languages/new/federal-resume-writing-services.html

“Kita sudah tinggal selama 20 tahun lebih,” tandas dia. (Ak/El)