Home News Update Ekonomi, Penyebab Tingginya Perceraian di Karanganyar

Ekonomi, Penyebab Tingginya Perceraian di Karanganyar

Khorirul Anam, Panitera Muda Hukum Agama Pengadilan Agama Karanganyar menyebut faktor ekonomi alasan menggugat cerai.

Karanganyar, 3/5 (BeritaJateng.net) – Perceraian di wilayah Kabupaten Karanganyar tergolong tinggi dan cenderung meningkat tiap tahunnya. Fakor pemicunya juga beragam, dari faktor ekonomi, kehadiran orang ketiga dalam perkawinan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), alasan kesehatan dan masih banyak lagi.

Panitera Muda Hukum Agama Pengadilan Agama Karanganyar Khorirul Anam, mengatakan data yang masuk di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Karanganyar pada tahun 2015 ada 1924 kasus dan 1125 diantaranya merupakan kasus perceraian.

Khoirul juga menyampaikan perceraian saat ini memang banyak diajukan oleh kaum wanita sebagai penggugat dan mayoritas adalah masa usia produktif 30-50 tahun.

“Memang mayoritas akhir-akhir ini yang mengajukan memang kaum wanita,” jelasnya ketika ditemui beritajateng.net di kantornya, Rabu (4/4/2016).

Faktor pendukung penyebab kasus perceraian di Karanganyar cukup variatif. Namun, paling dominan soal perekonomian. Alasannya karena pihak suami tidak bertanggung jawab menafkahi istrinya sehingga memilih bercerai.

Lebih jauh Khoirul Anam juga menyampaikan pasangan pernikahan dini juga banyak yang berakhir di pengadilan agama meski jumlahnya tidak begitu banyak. Mereka gagal mempertahankan rumah tangganya biasanya disebabkan faktor ekonomi yang belum mapan dan belum siap secara psikologis untuk berumah tangga.

Data dari Kantor Pengadilan Agama, jumlah dispensasi pernikahan di Karanganyar cukup tinggi bahkan mencapai 115 dalam kurun waktu tahun 2015 lalu. Hamil di luar nikah bagi anak dibawah umur adalah salah satu contoh permintaan dispensasi menikah.

“Mereka yang mengajukan dispensasi nikah adalah pasangan yang masih di bawah umur. Sesuai dengan ketentuan UU Perkawinan adalah usia 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria,” jelasnya.

Trend perceraian di Karanganyar juga menarik. Akan mengalami pemingkatan saat Lebaran usai. Biasanya yang mengajukam adalah para perantau yang bekerja di luar kota atau luar negeri. .

“Setelah Lebaran biasanya jumlah pendaftar untuk perceraian memang cukup banyak. Mudik sekaligus mengurus perceraian,” ujar Khoirul Anam.

Sebenarnya tidak semua gugatan perceraian bisa putus, banyak faktor yang harus dilihat. Namun biasanya bahi pasangam yang sudah mengajukan perceraian sudah bertekat mengakhiri rumah tangganya dan menolak mediasi yang disarankan Pengadilan Agama.

“Biasanya yang mengajukan memang berniat pisah. Sehingga tawara mediasi sering diabaikan,” pungkasnya. (Bj24).