Home Ekbis Ekonomi Jateng Meningkat Di Era Kepemimpinan Ganjar

Ekonomi Jateng Meningkat Di Era Kepemimpinan Ganjar

Dialog interaktif digelar di gedung Thomas Aquinas Unika Soegijopranoto.

Semarang, 2/5 (BeritaJateng.net) – Guru Besar Akuntansi Universitas Katolik Soegijapranoto Semarang Profesor Andreas Lako menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tiap tahun di bawah kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo terus mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.

“Tren pertumbuhan ekonomi Jateng pada 2013-2015 selalu meningkat dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya pada Dialog Interaktif Tentang Laporan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Tengah yang berlangsung di Gedung Thomas Aquinas, Unika Soegijapranata Semarang, Senin.

Ia memaparkan pertumbuhan ekonomi Jateng pada 2014 tercatat 5,47 persen dan nasional 5,02 persen, sedangkan pada 2015, pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,67 persen dan nasional 4,73 persen.

“Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan keempat 2015 juga lebih tinggi dari rata-rata seluruh provinsi di Pulau Jawa, Jateng 6,1 persen, sedangkan Jawa 5,9 persen,” ujarnya.

Menurut dia, dampat pertumbuhan ekonomi yang naik itu terlihat pada kesejahteraan masyarakat, turunnya angka kemiskinan dan pengangguran, bahkan kesenjangan sosial ekonomi di Jateng juga paling rendah dibanding provinsi lain di Jawa.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unika Soegijapranoto itu mengungkapkan, 88,13 persen dari 455 target indikator kinerja pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sudah tercapai.

“Dibandingkan 2015, capaian target indikator pun meningkat dan kalau dari akademis, nilai 88,13 persen ini bisa dinilai A plus, sudah bisa naik kelas,” katanya.

Pada dialog interaktif yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Ketua Pansus LKPJ DPRD Jateng Ferry Firmawan sempat terlihat debat data dengan nada tinggi.

Dialog interaktif tersebut digelar menyusul kritik Pansus LKPJ DPRD Jateng yang menilai gubernur gagal memenuhi target, tidak konsisten menjalankan visi misinnya, dan “outcome” dari kinerja Gubernur Jateng tidak jelas.

Menanggapi hal tersebut, Andreas menilai DPRD Jateng kurang tepat jika menggunakan indikator pengukuran kinerja dengan membandingkan realisasi dan target karena target seringkali politis, ambisius, dan tidak masuk akal.

“Paling realistis ya mengukur menggunakan pertumbuhan kinerja antarwaktu atau periode,” ujarnya.

LKPJ Gubernur Jateng, kata dia, sudah memaparkan “outcome” pembangunan pada pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penurunan kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial ekonomi, peningkatan indeks pembangunan, makin panjang jalan, dan berkurangnya kesenjangan antardaerah. (Bj)