Home Headline Duh!! Di Semarang Masih Banyak Rumah Tak Miliki Jamban

Duh!! Di Semarang Masih Banyak Rumah Tak Miliki Jamban

636
Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali.

Semarang, 27/3 (BeritaJateng.net) – Permasalahan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) menjadi perhatian Pemkot Semarang. Hal itu dikarenakan saat ini masih banyak wilayah yang ditemukan BABS.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarnag, Ali, mengatakan jika BABS banyak ditemukan diwilayah Semarang bawah atau pantura.

Lebih spesifik ia menyebutkan yaitu Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari. Disperkim Kota Semarang setidaknya masih menemukan 300 kepala keluarga (KK) yang tidak memiliki jamban.

“Kemarin saya saya survey di Kelurahan Tambakrejo, masih banyak yang belum punya jamban. Kurang lebih 300 KK belum memiliki jamban. Itu yang kedepan akan kita bangun,” kata Ali.

Pasalnya, BABS tersebut selain membuat kekumuhan juga menjadikan lingkungan kurang sehat. Pembangunan Kelurahan Tambakrejo tersebut akan dimulai dengan sebuah pilot project. Pengentasan kawasan kumuh diwilayah tersebut.

Persoalan kawasan kumuh di dalamnya juga termasuk jambanisasi. Dikatakan Ali, adapun anggaran yang akan digunakan tidak hanya bersumber dari APBD Kota Semarang saja. Namun Disperkim Kota Semarang juga akan menggali anggaran dari luar melalui proposal.

“Makannya saya akan berusaha membuat proposal yang nantinya sumber danannya tidak hanya dari APBD kota saja, namun juga bantuan Pemprov Jateng, dan bantuan pemerintah pusat juga,” katanya.

Konsep yang akan diterapkan untuk pembangunan wilayah tersebut hampir sama dengan Kampung Pelangi yang sudah dibangun Pemkot Semarang. “Rumah-rumah nanti mungkin akan dicat warna-warni, dan juga pavingnya,” tuturnya.

Hal yang menjadi pembeda dengan Kampung Pelangi nantinya yaitu adanya pusat oleh-oleh di Tambakrejo. Wilayah administratif Tambakrejo yang dilalui jalur utama Semarang Demak menjadi alasan pembangunan.

“Saya ingin membuat kelurahan tidak kumuh dan kelihatan moncer. Mulai dari sarana prasarana, RTLH, lampu, sanitasi, dan tanaman akan kita buat lebih bagus dan berwarna,” katanya. Hal itu juga harus didukung dengan adanya jamban di setiap KK.

Dikatakan ali BABS di Kota Semarang tidak boleh dipandang sebelah mata. Dikarenakan hal itu juga menjadi wajah kota itu sendiri. Apalagi, Pemkot Semarnag memiliki target jika di 2020-2021 Kota Semarang akan bebas BABS. “Apalagi di 2018 kita sudah deklarasi jika akan segera bebas BABS,” katanya.

Masih terkait dengan Kelurahan Tambakrejo, pembangunan IPAL secara komunal juga dapat menjadi solusi minimnya jamban keluraga di tempat tersebut. Dikatakannya, saat ini Pemkot Semarnag juga sudah membangun beberapa IPAL Komunal di beberapa kelurahan.

Tujuannya tidak lain tidak bukan yaitu menekan BABS. “Sosialisasi yang sudah dibangun yaitu IPAL Komunal, yang dulu dari program USRI kita sosialisasikan supaya bangunan itu tidak mangkrak,” katanya.

Adanya IPAL Komunal tersebut, lanjutnya, ia mengimbau supaya masyarakat Kota Semarnag tidak melakukan BABS lagi.

“Tetapi juga dari masyarakat, supaya mereka bisa memahami gunannya IPAL komunal. Itu yang kami harapkan sosialisasi tidak hanya berhenti di tahun ini saja, namun setiap tahun,” ujarnya. (El)