Home Hiburan Dugderan, Tradisi Kota Semarang Sambut Bulan Suci Ramadhan

Dugderan, Tradisi Kota Semarang Sambut Bulan Suci Ramadhan

Walikota Semarang menabuh bedug saat prosesi Dugderan menandakan semakin dekatnya bulan Ramadhan.

Semarang, 4/6 (BeritaJateng.net) – Dugderan, salah satu bentuk tradisi di kota Semarang merayakan datangnya bulan suci Ramadhan. Upacara ini merupakan cerminan dari perpaduan tiga etnis yang mendominasi masyarakat Semarang yakni etnis Jawa, Tionghoa dan Arab.

Nama “Dugderan” diambil dari kata “dugder” yang berasal dari kata “dug” (bunyi bedug yang ditabuh) dan “der” (bunyi tembakan meriam). Bunyi “dug” dan “der” tersebut sebagai pertanda akan datangnya awal Ramadhan.

Menurut sejarah perayaan Dugderan diperkirakan mulai berlangsung sejak tahun 1881 di kala Semarang dipimpin oleh Bupati RMTA Purbaningrat.

Upacara ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat dalam masyarakat mengenai awal dimulainya puasa pada bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu dicapailah suatu kesepakatan untuk menyamakan persepsi masyarakat dalam menentukan awal Ramadhan yakni dengan menabuh bedug di Masjid Agung Kauman dan meriam di halaman kabupaten dan dibunyikan masing-masing tiga kali dan dilanjutkan dengan pengumuman awal puasa di masjid.

Pawai karnaval Dugderan
Pawai karnaval Dugderan membawa Warag Ngendog 

Perayaan multikultural ini semakin menarik minat masyarakat Semarang dan sekitarnya ditandai dengan makin banyaknya para pedagang yang menjajakan dagangannya yang beraneka ragam seperti minuman, makanan, dan mainan anak-anak seperti perahu-perahuan, celengan, seruling dan gangsing.

Selain itu dalam upacara dugderan terdapat ikon berupa “warak ngendhog” berwujud hewan berkaki empat (kambing) dengan kepala mirip naga. Warak ngendhog memperlihatkan adanya perpaduan kultur Arab, Islam, Jawa, dan Tionghoa. Keberadaan warak ngendhog tersebut memperlihatkan adanya keterkaitan yang harmonis antar-etnis sehingga membuka jalinan kontak budaya yang lebih intensif sehingga memungkinkan adanya proses akulturasi.

Jalannya upacara dugderan

Sebelum pelaksanaan dibunyikan bedug dan meriam, telah dipersiapkan berbagai perlengkapan berupa:

1. Bendera

2. Karangan bunga untuk dikalungkan pada 2 (dua) pucuk meriam yang akan dibunyikan.

3. Mesiu dan kertas koran yang merupakan perlengkapan meriam.

4. Gamelan yang disiapkan di pendopo

Petugas yang harus siap agar prosesi upacara berjalan baik adalah:

1. Pembawa Acara

2. Petugas yang membunyikan bedug dan meriam

3. Pengrawit

4. Pemimpin upacara

Dentuman meriam dan pemukulan bedug menjadi puncak acara prosesi tradisi kirab budaya Dugderan di Kota Semarang.

Dugderan diawali dengan karnaval yang diikuti ribuan peserta dari berbagai kelompok masyarakat. Acara diawali dari halaman Balaikota Semarang menuju Masjid Agung Kauman di kawasan Johar, kemudian menuju Masjid Agung, Jawa Tengah.

IMG-20160604-WA0017Di sepanjang jalan Pemuda berjajar menjadi pagar betis pelajar si kota Semarang membawa ‘tek-tek’ dan membunyikannya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk menghidupkan kembali kebiasaan dibulan puasa saat membangunkan sahur dengan bunyi ‘tek-tek’.

Di sejumlah jalan protokol yang dilewati terlihat ribuan masyarakat yang menyaksikan gelar budaya tersebut. Arak-arakan dari musik gamelan, drum band, tari-tarian, serta sejumlah kesenian lainnya turut memeriahkannya.

Pimpinan daerah di Kota Semarang juga turut serta mengikuti karnaval dengan menaiki andong.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Masdiana Safitri mengatakan, gelaran Dugderan tahun ini dilakukan selama dua hari.

Di Masjid Agung Kauman, dilakukan kegiatan utama, yakni penyerahan dan pembacaan sukuf halakoh, kemudian pemukulan beduk dan meriam yang dibunyikan sebanyak enam kali.

Selain itu, juga dibagikan pembagian kue “ganjel rel” dan air khatam Al Quran. Kue ganjel rel diibaratkan agar pelaksanaan Puasa tidak ada ganjalan sehingga pikiran jernih dan tenang. Kue khas Kota Semarang ini berbentuk kotak berwarna coklat bertabur wijen yang cukup melegenda.

Ribuan warga terlihat berebut saat prosesi itu, sedangkan air khatam Al Quran diibartakan agar masyarakat selalu diberi keberkahan.

Setelah selesai acara di Masjid Kauman, Wali Kota dan rombongan menggunakan andong melanjutkan kegiatan di MAJT hingga selesai. Acara ini digelar sejak siang hingga menjelang petang.

Meski perayaan Dugderan yang menandai datangnya bulan Ramadhan sudah digelar, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, pelaksanaan Puasa tetap menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.

Terkait dengan acara ini, ia mengatakan, Dugderan dimaksudkan untuk mempertahankan tradisi yang sudah dilakukan secara turun-temurun.

“Selain itu, prosesi kirab budaya untuk menyambut bulan Puasa juga diharapkan menjadi kebanggaan warga Semarang setiap tahunnya,” tuturnya.

Selama perayaan Dugderan, di gelar juga pasar malam (pasar tahunan yg rutin digelar). Di pasar malam tersebut terdapat berbagai Mainan seperti Komedi Putar, Rumah Hantu, Ombak Asmara, Bianglala, Rollercoaster mini, atau Tong Setan ramai dikunjungi disini, tiket masuknya hanya 5000 rupiah tiap satu kali permainan. Juga dijajakan banyak baju baju dan aneka sepatu dan sandal, serta tak ketinggalan berbagai macam kembang api pilihan serta mainan modern lainnya. (Bj05)