Home Headline Dua Suplemen Mengandung DNA Babi Ditarik Dari Peredaran

Dua Suplemen Mengandung DNA Babi Ditarik Dari Peredaran

Dua Suplemen Mengandung DNA Babi Ditarik Dari Peredaran
        BLORA, 7/2 (BeritaJateng.net) – Dua suplemene mengandung deoxyribose nucleic acid (DNA) Babi pada suplemen Viostin DS dan Enzyplex tablet Kini sudah tidak lagi ditemukan di sejumlah apotek di kabupaten blora. Menurut sejumlah pelayan, kedua suplemen tersebut sudah ditarik oleh distributor sekitar 3 hari lalu.
          Apoteker salah satu apotik di Blora di Jalan Gunandar Rikki Bahtiar mengatakan, jika di apotiknya sudah tidak lagi menjual suplemen Viostin DS dan Enzyplex tablet sejak adanya surat edaran dari BPOM RI yang mengatakan jika dua suplemen itu positif mengandung DNA babi. Karena dari perusahaan langsung melakukan penarikan suplemen tersebut.
          “Tapi untuk enzyplex agak telat untuk penarikannya karena setelah BPOM RI menerbitkan jika suplemen ini positif mengandung DNA babi dari perusahan PT Medifarma Laboratories baru menariknya,” ujarnya.
           Rikki, sapaan akrabnya, mengatakan, bukan hanya ditempatnya saja tetapi juga untuk apotik di Blora sudah tidak ada yang menjual dua suplemen ini.
Lalu saat disinggung apakah selama ada kabar suplemen yang mengandung DNA babi ada edaran tersendiri dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora untuk penyegahan menjual dua seplemen ini.
          Menurutnya tidak ada, karena untuk peringatan ini sudah di umumkan sendiri oleh ikatan apoteker indonesia (IAI) Yang sudah mengumumkan sejak awal beredarnya kabar ini.
           Intan Nur Aini salah satu penjaga Minimarket di Blora saat ditanya terkait dua suplemen ini awalnya dia mengatakan masih menjual Viostin DS. Tapi saat dia mengecek persediaan obatnya sudah tidak lagi ada suplenem ini. ”Berarti sudah ditarik mas, sudah tidak ada,” ucapnya.
          Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora Henny Indriyanti  mengatakan, terkait adanya suplemen yang mengandung DNA babi ini DKK tidak memiliki wewenang untuk melakukan penarikan. Karena penarikan ini adalah wewenang dari BPOM RI. ”Disetiap apotek, apoteker yang akan mengembalikan produknya ke perusahaan obat masing-masing,” terang Henny.
(MN/El)