Home Headline Dosen Politeknik Tegal Ditahan Terkait Korupsi Pembangunan Asrama Tegal

Dosen Politeknik Tegal Ditahan Terkait Korupsi Pembangunan Asrama Tegal

korupsi

Semarang, 28/4 (Beritajateng.net) -Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah kembali menahan tersangka yang diduga melakukan tindak pidana korupsi. Kali ini yang ditahan adalah Dosen Politeknik Perhubungan Tegal Andi Sahara, Selasa (28/4).

Dia ditahan atas dugaan kasus korupsi pembangunan asrama tahap 2 di Kota Tegal. 

Kasipenkum Kejati Eko Suwarni menyatakan, penahanan dilakukan selama 20 hari ke depan untuk mempercepat proses pemeriksaan terhadap tersangka.

“Kami tahan untuk mempercepat proses pemeriksaan penyidik. Tersangka (Andi) dalam hal ini berperan sebagai pejabat pembuat komitmen (ppk) dalam proyek pembangunan asrama tahap 2 di Tegal. Hingga saat ini diketahui kerugian negara mencapai Rp. 2,468 miliar,” katanya.

Terpisah Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jateng Johny Manurung didampingi Kasidik, Imang Job Marsudi mengungkapkan dalam kasus yang ditangani, diketahui tersangka tidak berperan sendirian. Melainkan melakukan perbuatannya bersama Direktur PT. Galih Medan Persada, Supadi, selaku rekanan.

“Pembangunan asrama ini harusnya selesai pada 2013, namun sampai pada batas akhir pekerjaan hanya selesai 83%. Dari total pekerjaan tersebut dibayarkan oleh tersangka AS sebanyak Rp. 9,6 miliar yang mustinya nilai pekerjaan tersebut hanya Rp. 7,9 miliar. Jadi ada kelebihan bayar Rp. 1,7 miliar, Itu perkiraan awal kami. Namun berdasarkan hasil audit ahli dari Unnes, terdapat kerugian negara sebanyak Rp. 2,468 miliar,” terang Johny.

Dikatakan Johny, kasus yang menjerat tersangka Andi Sahara  bermula pada tahun 2013 ketika tersangka yang masih aktif di Kementrian Perhubungan menganggarkan dana alokasi APBD Tegal sebesar Rp. 10,250 miliar.

Dari proyek tersebut diketahui beberapa pekerjaan yang belum selesai antara lain pekerjaan keramik, pekerjaan keramik dinding, dan pembersihan.

Terkait tersangka Supadi, Johny mengatakan yang bersangkutan tidak hadir, namun pihaknya akan berusaha melakukan pemanggilan keempat kepada tersangka yang saat ini berdomisili di Jakarta.

“Sudah tiga kali tidak hadir pemeriksaan. Nanti akan coba panggil kembali untuk kepentingan penyidikan. Kalau dalam pemanggilan tidak datang terpaksa akan dilakukan penjemputan paksa,” tandasnya. (BJ04)