Home Lintas Jateng DKK Surakarta Temukan 923 Anak Kurang Gizi

DKK Surakarta Temukan 923 Anak Kurang Gizi

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

Solo, 23/1 (BeritaJateng.net) – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta, Jawa Tengah, menemukan sebanyak 923 anak mengalami kurang gizi yang tersebar di 51 kelurahan di kota itu.

“Populasi anak ada 35.741 orang, dari sebanyak itu ditemukan ada 923 anak yang kekurangan gizi,” kata Kepala DKK Surakarta, Siti Wahyuningsih kepada wartawan di Solo, Jumat.

Ia mengatakan sejak 2009, di Surakarta atau Solo tidak ditemukan angka gizi buruk. Artinya sudah lima tahun di kota ini bebas gizi buruk, tapi sekarang masih ada temuan sebanyak 923 anak mengalami gizi buruk.

Siti mengatakan temuan itu tidak terpusat pada satu daerah, tetapi tersebar di semua wilayah Kota Solo. “Memang masih banyak ditemukan di slum area (area kumuh), tapi itu tidak semuanya. Kasus ini tersebar di semua wilayah di kota ini,” katanya.

Siti mengatakan data 2014 menyatakan pemerintah pusat mematok angka gizi kurang sebanyak 5,3 persen. Namun, Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berhasil merealisasikan sebesar 2,5 persen. Artinya, pencapaian Solo masuk kategori baik. “Penanganan kasus gizi kurang di Solo membaik,” katanya.

Ia mengatakan ratusan kasus anak gizi kurang tersebut tidak lantas disebabkan karena masalah ekonomi. Selama ini masyarakat menilai gizi kurang lebih disebabkan masalah ekonomi keluarga sehingga kurang bisa memenuhi asupan makanan.

“Kurang gizi bukan karena masalah ekonomi tetapi pola asuh yang salah. Misalkan saja orang tua hanya memberikan anak ke pembantu tanpa diawasi,” katanya.

Ia mengatakan untuk mengatasi masalah itu, kini pihaknya gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan. Dalam melakukan langkah itu, DKK Surakarta berkoordinasi dengan puskesmas dan posyandu yang ada di kelurahan-kelurahan.

“Penanganannya melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan PMT Anak Sekolah (PMTAS). Kebijakan yang sudah lama itu diperuntukkan bagi ibu hamil, balita dan balita pra sekolah yakni anak, TK, dan SD. Berdasarkan penghitungan, untuk gizi buruk kami menyediakan anggaran Rp10.000 per hari per anak. Sementera itu, untuk gisi kurang hanya Rp7.500 per anak per hari,” katanya.

Ia mengatakan anggaran tersebut, terus dibagi ke masing-masing puskesmas, dengan pertimbangan, jumlah balita di tiap daerah berbeda. Dengan kata lain, anggaran yang dikucurkan ke masing-masing puskesmas berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

“Data kami itu dinamis. Pasca pemberian PMTAS bulan ini kemudian sebulan lagi ditimbang mungkin sudah baik. Tapi ada juga yang sebaliknya, di mana bulan lalu tidak masuk sebagai gizi kurang tapi saat penimbangan bulan ini justru masuk,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga memberikan edukasi ke warga mulai dari hamil sampai melahirkan. Pemantauan hasil edukasi itu bisa dilihat dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). (ant/BJ)

Advertisements