Home Lintas Jateng Disperindag Sidak Barang Tidak Ber-SNI

Disperindag Sidak Barang Tidak Ber-SNI

image

SOLO, 8/4 (Beritajateng.net)- Sidak yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surakarta pada sejumlah toko mainan anak  ternyata banyak sekali jenis mainan anak yang tidak memiliki standar SNI (standar nasional industri). Banyak sekali mainan anak yang tidak berstandart-SNI di pusat grosir mainan di wilayah Nonongan Solo Jawa Tengah, Rabu (8/4/2015).

Kasi Pengawasan Disperindag setempat Sri Hening widyastuti menyebutkan meskipun dalam sidak ditemukan banyak sekali barang yang tidak ada standart SNI-nya namun pihak Dinkes tidak melakukan penyitaan.”Kita hanya meminta  pedagang untuk menarik dan tidak mendisplai lagi mainan dari plastik yang sebagian besar impor dari China, Jepang, dan Malaysia,” jelasnya saat acara  sidak.

Sedangkan pemilik  Toko Sumber Jaya Andre Sutanto, yang juga distributor mainan anak menjelaskan sebagian mainan anak yang di jual sudah ber-SNI. Sebagian besar mainan yang kami jual sudah ber-SNI, hanya saja stiker SNI-nya belum ditempel. “Kita tidak akan pajang lagi mainan yang tidak ber-SNI,” katanya.

Menurut Sri Hening tugas Disperindag hanya melakukan pengawasan saja dan juga memberi peringatan tertulis pada pedagang. Ada bagian tim lain yang akan melakukan tindakan.Setelah melakukan sidak di sejumlah toko grosir mainan anak Disperindag bersama Satpol PP juga melakukan inspeksi mendadak di toko elektronik “Berkah”.

Namun di lokasi tersebut, tim tidak  menemukan produk barang elektronik yang tidak ber-SNI. Semuanya sudah ber-SNI baik  televisi, mesin cuci, kulkas, dan lainnya. Henny, pemilik Toko Berkah mengaku toko elektronik miliknya semua baranng bermerk terkenal. Sehingga dipastikan ber-SNI.”Produk elektronik yang kami jual semuanya branded, jadi tidak mungkin yang tidak ber-SNI, karena terlalu beresiko,” jelasnya. 

Dalam kesempatan tersebut Hening menjelaskan adanya aturan yang mewajibkan  semua produk industri harus ber-SNI. Yang bertujuan untuk melindungi konsumen. “Bahkan untuk produk elektronik, terutama produk import juga harus ber-SNI, ditambah juga dengan adanya petunjuk penggunaan dengan Bahasa Indonesia dalam kartu garansi,” lanjutnya.

Sementara itu Hening juga menjelaskan produk mainan anak produksi dari UKM, pihak Disperindag akan berusaha memfasilitasi agar bisa mendapatkan standart SNI. “Agar agar produk tersebut (hasil UKM) bisa bersaing dengan mainan anak impor yang kini terus membanjiri pasar domestik,” pungkasnya. (BJ24)