Home Lintas Jateng Dishub: Di Semarang Banyak Juru Parkir Tak Kantongi Izin Parkir

Dishub: Di Semarang Banyak Juru Parkir Tak Kantongi Izin Parkir

Dishubkominfo Kota Semarang bersama Satlantas Polrestabes Semarang menggelar operasi parkir di beberapa jalan protokol di Semarang.

Semarang, 21/10 (BeritaJateng.net) – Banyak juru parkir resmi dan tak resmi yang belum mengantongi izin Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkkominfo) Pemerintah Kota Semarang.

“Di Kota Semarang banyak sekali juru parkir tak resmi, bahkan jumlahnya hingga ratusan orang yang terbagi menjadi dua shift. Dari 14 ruas jalan utama kota Semarang saja yang terdaftar sebagai Jukir resmi yang memiliki izin hanya 400 orang,” ujar Kasi Wasdal Parkir Dishubkominfo Kota Semarang Danang Kurniawan usai melakukan operasi parkir di beberapa ruas jalan di kota Semarang.

Selama ini banyak juru parkir yang telah beroperasi namun belum mengantongi izin, seperti yang dilakukan juru parkir di area Lawang sewu. Menurutnya, Dishubkominfo tidak akan mengeluarkan izin parkir di tempat-tempat insindentil, ruas jalan berukuran kurang dari 6 meter dua arah, serta jalan dengan kepadatan tinggi.

“Parkir samping Lawangsewu itu kan jalan tikungan kampung yang tidak memungkinkan untuk parkir, tapi tetap dipaksakan untuk lokasi parkir. Pemkot sudah merekomendasikan lokasi parkir di Museum Mandala Bhakti tapi juru parkir tetap ‘ngeyel’ dan gak mau pindah, makanya tidak akan kami beri izin parkir,” imbuhnya.

Untuk meminimalisir juru parkir tak berizin, Dishubkominfo dan kepolisian rutin melakukan operasi parkir dengan sanksi dan tindakan berupa tipiring bagi pelanggarnya. “Kami akan lakukan koordinasi dengan polisi apakah akan diberi tambahan sanksi bagi jukir yang melanggar, agar ada efek jera,” terangnya.

Sementara itu, Parno Jukir di area Lawangsewu mengaku telah mengajukan izin Kartu Tanda Anggota (KTA) parkir kepada Dishub namun tidak mendapatkan izin lantaran beroperasi di wilayah insidentil.  “Udah daftar tapi gak bisa,” terangnya.

Pria yang akrab disapa pak No ini setiap bulannya selalu menyetor uang Rp. 100.000 kepada petugas RT untuk kas RT. “Sebulan setor Rp. 100.000 untuk pemasukan uang kas, ditambah uang kebersihan Rp. 300.000 untuk kebersihan ke petugas kelurahan padahal kami perhari hanya mengantongi sekitar Rp. 80.000 per orang,” lanjutnya.

Menurut pak No, juru parkir di area Lawangsewu terdiri dari 16 orang yang dibagi menjadi dua shift. “Jumlah keseluruhan 16 orang, tapi ada pembagian shift jaga, makanya hasil parkir paling Rp. 80.000 sampai Rp. 90.000 perorang dan kebanyakan jukirnya adalah warga sekitar dari dua RW di Semarang Tengah ini,” katanya.

Terkait dengan alasan tak mau pindah ke lokasi parkir di Museum Mandala, pak No mengaku jika jarak Lawangsewu ke Museum cukup jauh dan beresiko karena lalu lintas padat, untuk itu ia berharap mendapatkan izin parkir di samping Lawangsewu. (Bj05)