Home Ekbis Diplomasi Walikota Semarang di Tengah Pasar Rejomulyo

Diplomasi Walikota Semarang di Tengah Pasar Rejomulyo

Diplomasi Walikota Semarang di Tengah Pasar Rejomulyo
Semarang, 5/3 (BeritaJateng.net) – Suasana Pasar Rejomulyo atau yang biasa disebut masyarakat Semarang sebagai pasar Kobong tiba-tiba berubah riuh ketika Walikota Semarang, Hendrar Prihadi tiba-tiba datang ke ‎pasar tersebut tengah malam sekitar pukul 23.00 WIB,  Sabtu (4/3). Walikota yang akrab disapa Hendi tersebut tampak tak canggung menelusuri jalan-jalan pasar yang becek untuk bertemu dengan pedagang ikan basah di pasar tersebut.
Tak hanya sekedar bertemu, Hendi pun mengajak makan bersama para pedagang untuk berdiskusi terkait upaya menghidupkan pasar Rejomulyo. Hendi mengharapkan adanya dukungan dari para pedagang untuk menghidupkan Pasar Rejomulyo pasca revitalisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang.
Revitalisasi tersebut sejalan dengan program revitalisasi 5000 pasar yang dilakukan oleh Presiden Jokowi. Namun upaya revitalisasi pasar yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang tersebut bukanlah tanpa kendala. Salah satu kendalanya adalah keengganan pedagang untuk pindah ke pasar yang dibangun oleh pemerintah.
Sebelumnya keengganan pedagang pasar rejomulyo menempat kios/los baru karena lantai pasar berkeramik yang dibuat oleh Pemerintah Kota Semarang justru dinilai licin dan tidak sesuai untuk berjualan ikan basah.
Kini setelah lantai pasar diperbaiki pemerintah kota Semarang dan telah diubah menjadi berpermukaan kasar, pedagang tetap enggan menempati dengan kini mempermasalahkan luasan kios/los yang tidak sesuai keinginan pedagang.
Untuk itulah Walikota Hendi merasa perlu untuk berbicara secara khusus kepada para pedagang pasar. “Hari ini saya saya yang ‘sowan’ kepada para pedagang untuk bicara dari hati ke hari sebenarnya apa keinginan pedagang sebenarnya,” tutur Hendi.
‎”Kalau diskusinya santai kan enak, daripada berbondong-bondong demo, saya saja yang kesini kan lebih baik,” tambahnya.
Untuk mencegah pasar rakyat di Kota Semarang mangkrak, Pemerintah Kota Semarang sendiri melalui Dinas Perdagangan Kota Semarang bahkan sampai terpaksa melakukan penyegelan 350 kios di 44 pasar di Kota Semarang karena tak kunjung ditempati pedagang lama.
‎Hal itu sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 9 tahun 2013. Dalam pasal 17 disebutkan, Setiap pedagang yang menempati toko/kios dan los di kawasan pasar wajib mempunyai ijin.
Serta dalam pasal 38 point H disebutkan, setiap pemegang ijin dilarang menutup tempat usaha (tidak memanfaatkan/tidak melakukan aktifitas) dalam jangka waktu 3 bulan berturut-turut atau 6 bulan terputus-putus tanpa persetujuan Walikota atau pejabat yang ditunjuk.
Dan salah satu pasar yang berpotensi dilakukan penindakan serupa adalah Pasar Rejomulyo. Namun Walikota Hendi sangat menyayangkan jika penindakan serupa juga terjadi di Pasar Rejomulyo.
“Sedulur-sedulur ini kan sudah lama berjualan disini dan menjadi prioritas kami, ini yang perlu dicata. Namun karena menjadi prioritas tersebutlah sehingga besar harapan saya sedulur-sedulur pedagang dapat bersinergi dengan kami, dan segera menempati pasar Rejomulyo yang baru,” jelas Walikota yang baru saja dinobatkan sebagai kepala daerah terbaik oleh Kementrian Pan RB ini.
Perwakilan pedagang Pasar Rejomulyo, Zainal Abidin pun mengapresiasi yang dilakukan oleh Walikota Hendi. “Saya senang belaiu mau melihat secara langsung teman-teman pedagang,” tutur Zainal.
“Ini demi mendukung perkenomian pasar Ikan basah Rejomulyo alias pasar kobong yang legendaris,” tegas Zainal. (El)
Advertisements