Home News Update Diduga Ada Permainan Uang Dalam Penerimaan Siswa “Siluman” di SMAN 1 Semarang

Diduga Ada Permainan Uang Dalam Penerimaan Siswa “Siluman” di SMAN 1 Semarang

Semarang, 27/7 (BeritaJateng.net) – Keberadaan satu siswa “siluman” yang diterima di SMA Negeri 1 Semarang usai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dinilai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang sebagai langkah yang tidak sesuai aturan.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Dyah Ratna Harimurti mengatakan jika adanya siswa siluman atau siswa bayangan adalah langkah yang dianggap tidak sesuai aturan.

“Kalau memang ada yang tidak daftar ulang 1 atau 2 orang, tidak berimbas pada tahun ajaran baru. Kalau menerima usai PPDB itu jelas melanggar aturan,” tegasnya.

Menurutnya, penumpang gelap biasanya menyasar sekolah-sekolah favorite. “Bisa jadi ada indikasi ‘permainan uang’ dalam penerimaan siswa siluman tersebut,” terangnya.

Politisi PDIP yang akrab disapa Detty ini menuturkan jika ketentuan yang dilakukan oleh SMA N 1 Semarang dengan memasukkan siswa “siluman” ke kuota yang ada akan merugikan sekolah swasta.

Ia pun khawatir jika hal tersebut juga terjadi di SMA Negeri lain yang ada di Kota Semarang. “Kalau terjadi di seluruh SMA Negeri tentu yang kasihan kan sekolah swasta yang bisa kekurangan murid baru,” ucapnya.

Selain di tingkat SMA, menurut informasi yang ada hal tersebut juga terjadi disebuah SD N yang ada di Kota Semarang. Kouta kelas I yang seharusnya 40 siswa, diisi sekitar 48  siswa baru. Dirinya pun meminta dinas untuk menegakkan aturan pada PPDB yang telah dibuat sebelumnya.

“Dewan hanya bisa memberikan rekomendasi, sanksi yang bisa menjatuhkan tentu hanya pemerintah kota atau dinas terkait. Praktik tersebut tentunya sangat merugikan sekolah lain, salah satunya sekolah swasta,” ucapnya.‬

Seperti yang diwartakan sebelumnya, Ombusman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Jawa Tengah menemukan ada satu siswa “siluman” saat melakukan investigasi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Semarang.

“Kami mendapatkan laporan dari masyarakat ada pendaftar yang NEM-nya tidak memenuhi standar, tetapi diterima di SMA Negeri 1 Semarang,” kata Kepala ORI Perwakilan Jateng Ahmad Zaid.

Setelah dilakukan penelusuran, kata dia, kemudian dilakukan pengecekan dengan mendatangi sekolah tersebut, dan diketahui kebenaran informasi itu dengan nama siswa berinisial AP.

Menurut dia, hasil penetapan Penerimaan Peserta Didik (PPD) SMA 1 Semarang yang ditandatangani Kastri Wahyuni selaku kepala sekolah yang lama menyatakan NEM terendah siswa yang diterima 33,50.

“Namun, anak ini yang hanya memiliki NEM 29,40 ternyata bisa diterima. Ini kan berbeda dengan hasil penetapan PPD. Pimpinan SMA Negeri 1 Semarang sementara dijabat pelaksana tugas (plt.),” katanya.

Lain soal, kata dia, apabila siswa bersangkutan tergolong sebagai masyarakat miskin sehingga memang disediakan kuota secara khusus, yakni minimal 20 persen oleh sekolah untuk bisa diterima.

Keterangan sekolah, lanjut dia, ada satu siswa yang pindah sehingga kursi kosong itu diisi oleh siswa “siluman” yang merupakan anak pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. (Bj05)