Home DPRD Kota Semarang Dewan Nilai Pembangunan Pasar Peterongan Asal-asalan Dan Tak Profesional

Dewan Nilai Pembangunan Pasar Peterongan Asal-asalan Dan Tak Profesional

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi menunjukkan anak tangga dan bangunan pasar Peterongan yang telah rusak padahal baru saja diresmikan
Semarang, 4/3 (BeritaJateng.net) – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menilai pengerjaan proyek pembangunan pasar Peterongan Semarang asal-asalan dan terkesan tidak profesional.
“Saya lihat sendiri banyak sekali kerusakan di pasar Peterongan, diantaranya atap yang tidak layak, saluran air juga tidak sesuai dengan fungsi dan harapan fungsinya, juga di lapak ayam salurannya cukup kecil dan tidak layak. Kalau saya lihat secara keseluruhan ini pelaksananya tidak profesional dan terkesan asal-asalan pengerjaannya,” kata Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi.
Hal ini disampaikan Supriyadi usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) bangunan baru pasar Peterongan Semarang, Sabtu (4/3) sore. Sidak yang dilakukan Ketua DPRD Kota Semarang di Pasar Peterongan menemukan beberapa bangunan, atap, dan saluran air yang tidak sesuai spek.
Bagian atap bangunan pasar Peterongan yang rapuh dan membahayakan
Bagian atap bangunan pasar Peterongan yang rapuh dan membahayakan pedagang.
Atap dilantai tiga pasar Peterongan tampak rapuh dan berlubang, dikhawatitkan bisa ambruk dan menimpa pedagang. Tak hanya itu, saluran air tidak sesuai fungsinya, karena hanya memiliki lebar 5 cm saja. Supriyadi juga menemukan kerusakan anak tangga, padahal pasar Peterongan baru diresmikan beberapa pekan yang lalu.
Menurutnya, beberapa permasalahan pengerjaan bangunan pasar Peterongan terletak pada perencanaan yang kurang matang serta asal-asalan. “Banyak pedagang kecewa, mereka mengharapkan pembangunan tempat yang layak untuk ditempati, ternyata (pengerjaan bangunan,red) jauh dari harapan,” katanya.
Supriyadi berharap adanya evaluasi pembangunan pasar tradisional oleh kontraktor. “Ini sebagai referensi bagi pelaksana atau kontraktor dalam pengerjaaan, supaya kedepan mereka tidak bisa bekerja secara profesional ya harus menjadi catatan buruk, bukan dipakai terus, dimenangkan terus (proyeknya,Red). Nah.. ini kan akhirnya anggaran masyarakat yang dihimpun dari pajak ini kan ‘muspro’ (sia-sia,Red),” imbuh politikus PDI Perjuangan ini. (El)
Advertisements