Home DPRD Kota Semarang Dewan Minta Penutupan Sungai di Genuk Dievaluasi

Dewan Minta Penutupan Sungai di Genuk Dievaluasi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai meninjau lokasi rob di Genuk Semarang
       Semarang, 9/2 (BeritaJateng.net) – Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono, menyoroti banjir yang sudah 14 hari merendam jalan dan beberapa rumah di Genuk, Kota Semarang. Menurutnya, tidak kunjung surutnya banjir karena pembendungan hilir tiga sungai di daerah tersebut.
         Ketiga sungai tersebut yakni Sungai Sringin Lama, Sringin Baru dan Tenggang. Agung meminta agar pembendungan tersebut dievaluasi agar air banjir di Genuk bisa masuk ke laut.
         “Sudah ada masukan dari akademisi kalau penutupan tiga sungai itu tidak tepat. Karena Pemerintah sendiri tidak memiliki kecukupan kapasitas pompa. Nah itu harusnya bisa dihitung secara teknis,” kata Agung.
         Terkait penghitungan teknis, katanya, bisa diketahui berapa debit air banjir yang menggenangi wilayah Genuk dan berapa debit rob air laut. Jika terjadi kesalahan dalam penghitungan teknis ini, dampaknya banjir masih menggenang.
         “Karenanya kami meminta pemerinta mengevaluasi itu. Makanya sekarang satu bendungan sudah dijebol untuk memastikan aliran banjir lancar. Mungkin ada mekanisme yang lebih tepat agar rob dan banjir ini bisa dikendalikan,” ucapnya.
         Ia menambahkan, jumlah pompa yang dikerahkan dalam menanggulangi banjir juga menentukan. Apalagi saat ini baik dari jumlah maupun kapasitas pompa, dikatakan masih minim.
         Karena itu, ia mendesak dilakukan percepatan normalisasi sungai Sringin dan Tenggang dan pembuatan DAM untuk mengendalikan banjir dan rob yang selalu merendam jalur pantura Kota Semarang.
       “Sumber persoalan utamanya itu kan robnya. Kalau pemerintah bisa melakukan percepatan penanganan banjir itu harusnya fokus pada percepatan penanganan robnya dengan mempercepat pembangunan DAM,” ucapnya.
         Dikatakannya, dari semua program unggulan kepemimpinan Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryanti Rahayu, harusnya penanganan banjir menjadi prioritas utama. Tidak bisa dipungkiri jika banyak daerah di Kota Semarang rawan banjir.
         “Pemkot sudah punya dokumen perencanaan dalam bentuk Perda, yaitu Perda Nomor 7/2014. Lha Perda itu yang harusnya menjadi quality performance indicator (QPI),” tandasnya.
          Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, E Kumbino menuturkan, penutupan hilir sungai Sringin dan Tenggang dikarenakan ada proses normalisasi yang sedang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
          Selain itu, penutupan sungai jika dimaksudkan agar air laut tidak masuk ke Genuk. Hal itu karena elevasi air laut seringkali lebih tinggi dibandingkan ketinggian tanah di Genuk.
           “Yang kami takutkan itu justru rob makanya tiga sungai ditutup. Untuk sementara dibuka satu agar banjir di Genuk bisa dibuang ke laut,” katanya.
          Meski demikian, katanya, penanganan banjir secara menyeluruh mengandalkan kemampuan pompa. Ada 17 pompa dari DPU yang dikerangkan dengan berbagai kapasitas. Belum lagi ditambah pompa dari BBWS Pemali Juana.
           Hanya saja, puluhan pompa tersebut belum mampu mengeringkan banjir dalam waktu cepat. Sehingga, ruas jalan Semarang-Demak masih terendam banjir sampai sekarang dengan ketinggian mencapai 30 cm.
            “Persoalannya itu hujan. Kalau sehari saja tidak hujan, pasti air akan berkurang dan bisa kering. Kalau hujan lagi, pasti debit banjir bertambah,” jelasnya.
            Sementara untuk bendungan hilir sungai Tenggang yang tidak dibuka, Kumbino mengatakan, justru jika dibuka maka banjir tidak akan pernah surut. Pasalnya ketinggian air laut lebih tinggi dan pasti akan masuk ke darat. (El)