Home DPRD Kota Semarang Dewan Harap Aplikasi Tumbasin Bisa Geliatkan Ekonomi di Pasar Tradisional

Dewan Harap Aplikasi Tumbasin Bisa Geliatkan Ekonomi di Pasar Tradisional

732
Penandatanganan Kerjasama MOU Pemkot Semarang terkait aplikasi Tumbasin.

SEMARANG, 22/1 (BeritaJateng.net) – Aplikasi Tumbasin yang diinisiasi mahasiswa Kota Semarang dan diperkenalkan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, mendapatkan apresiasi dari DPRD Kota Semarang.

Aplikasi belanja online di pasar tradisional ini dinilai bisa meningkatkan daya beli masyarakat ke pasar tradisional.

Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Joko Susilo mengatakan, daya beli masyarakat ke pasar tradisional mulai berkurang.

Hadirnya aplikasi ini bisa menjadi terobosan yang bagus untuk lebih menghidupkan pasar tradisional.

“Pada prinsipnya selama itu untuk perbaikan dan kelanjutan pasar itu bagus. Pasar tradisional yang semakin lama semakin sepi diberi kemudahan akses,” tutur Joko, Selasa (21/1/2020).

Ia berharap, Pemkot Semarang bisa menangkap peluang ini sebagai inovasi untuk mengembangkan pasar tradisional.

Dalam aplikasi Tumbasin, baru ada empat pasar yang terdaftar, yaitu Pasar Karangayu, Pasar Peterongan, Pasar Pedurungan, dan Pasar Bulu.

Diharapkan, kedepan pasar-pasar lain bisa masuk ke dalam aplikasi. “Pemkot harus banyak inovasi. Sejauh ini banyak pasar tingkat yang lantai atasnya sepi atau bahkan kosong,” katanya.

Selain menciptakan inovasi, menurutnya, penataan pasar menjadi hal yang penting. Zonasi pedagang harus dilakukan dengan baik.

Seluruh pedagang juga diusahakan dapat masuk ke dalam pasar sehingga mereka tidak berjualan di tepi jalan. Jika pedagang tertib, Joko yakin pasar tradisional akan ramai.

“Pedagang diatur, semisal bumbon dan sayur dilantai bawah, pedagang pakaian bisa dilantai 2, kemudian lantai 3 bisa dibuat pusat jajanan atau kuliner,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Joko, penyediaan kantong parkir di pasar tradisional juga sangat diperlukan.

Sehingga, pembeli tidak memarkirkan kendaraan di tepi jalan yang dapat menimbulkan ketersendatan arus lalu lintas.

Kemudian, hal yang perlu diperhatikan, tambahnya, yaitu keberadaan toko atau pasar modern.

Semakin banyaknya toko modern juga dapat menggerus pasar tradisional. Apalagi jika lokasinya cukup dekat dengan pasar tradisional. Karena itu, keberadaan toko atau pasar modern harus sesuai dengan perda yakni minimal 500 meter dari pasar.

Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Juan Rama Soemarmo juga mengapresiasi Pemkot Semarang menggeliatkan kembali ekonomi di Pasar Tradisional.

Menurutnya, implementasi aplikasi Tumbasin di pasar tradisional diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi satu atau dua pedagang saja tapi merapat untuk semua pedagang baik yang besar maupun pedagang kecil.

“Harapannya jangan sampai ada monopoli, biar merata menguntungkan semua pedagang bahkan pedagang kecil,” katanya.

Juan juga menyayangkan keberadaan toko modern di dekat pasar tradisional.

“Memang sudah ada aturannya, tapi saya cek di lapangan masih ada beberapa yang cukup dekat,” ujarnya.

Ia berharap, Pemkot bisa menertibkan pasar modern yang jaraknya begitu dekat dengan pasar tradisional. Jika tetap dibiarkan berada di dekat pasar tradisional, hal itu akan memberikan dampak negatif.

“Kalau tidak ditertibkan pasti Pemkot akan kena dampaknya,” tegasnya.

Kabid Pengembangan Perdagangan dan Stabilitas Harga Dinas Perdagangan Kota Semarang, Sugeng Dilianto mengatakan, aplikasi Tumbasin dikelola oleh vendor.

Sedangkan Pemkot Semarang hanya memfasilitasi pedagang dan vendor untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional.

“Kami hanya fasilitasi saja. Kami mendukung biar para pedagang menyesuaikan teknonogi agar lebih luas jangkauan pemasarannya,” katanya.

Dikatakannya, Dinas Perdagangan juga memiliki inovasi berupa sistem informasi perdagangan. Masyarakat bisa memantau harga kebutuhan pokok setiap harinya pada sistem tersebut.

Diharapkan, dengan inovasi-inovasi itu, masyarakat lebih gemar berbelanja di pasar tradisional.  (El)