Home Lintas Jateng Darurat, 39 Siswa di Banjarnegara Jalani UAS di Rumah Warga

Darurat, 39 Siswa di Banjarnegara Jalani UAS di Rumah Warga

image

Banjarnegara, 9/12 (Beritajateng.net) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, melaporkan sebanyak 39 siswa Sekolah Daerah Negeri (SDN) Pandansari 2 terpaksa melaksanakan ujian akhir semester (UAS) di rumah warga karena jalan putus akibat longsor.

“Oleh karena kondisi darurat akibat jalan putus total dan permintaan orang tua siswa, UAS dilaksanakan di rumah warga Dusun Pencil RT 01 RW 03, Desa Karangtengah, Kecamatan Wanayasa,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Catur Subandrio, di Banjarnegara, Selasa seperti dikutip Antara.

Dalam hal ini, kata dia, dua orang guru SDN Pandansari 2, Kecamatan Wanayasa, mendatangi lokasi ujian yang berjarak sekitar 2 kilometer dari sekolah itu.

Menurut dia, dua guru tersebut mendampingi 39 siswa kelas 1-6 SDN Pandansari 2 yang melaksanakan ujian akhir semester.

Sementara itu, Kepala Desa Karangtengah Suripto mengatakan bahwa 39 siswa itu terpaksa melaksanakan UAS di rumah warga karena khawatir terjadi sesuatu di jalan.

“Selain itu, kondisi lokasi juga cukup mengkhawatirkan. Untuk pengawasannya, guru dari SDN Pandansari 2 mengawasi ujian di rumah warga tersebut,” katanya.

Koordinator Posko Aju Bencana Tanah Bergerak Dusun Pencil BPBD Banjarnegara Andry Sulistyo mengatakan bahwa berdasarkan pendataan yang dilakukan pada hari Selasa (9/12), pukul 07.00 WIB, jumlah warga Dusun Pencil yang mengungsi sebanyak 43 keluarga atau 149 jiwa.

Menurut dia, 149 pengungsi tersebut terdiri 91 dewasa, 20 anak-anak, dan 24 orang lanjut usia.

“Mereka mengungsi di empat pos pengungsian yang berlokasi di Dusun Gunung Putih, Desa Pandansari,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa Dusun Pencil terdiri tiga RT yang masuk dalam RW 03 dan dihuni 126 keluarga atau 444 jiwa.

Menurut dia, sebanyak 36 keluarga yang berada di RT 03 RW 03 terdampak langsung bencana tanah bergerak dari Pegunungan Putih tetapi sebagian warga RT lainnya ikut mengungsi karena takut terhadap gerakan tanah, jaringan listrik mati total, dan jalan terputus total.

“Lima rumah warga yang rusak total telah dibongkar,” katanya.

Ia mengatakan bahwa hingga saat ini, Posko Aju masuh kekurangan logistik di antaranya genset dan peralatan listrik sekitar 1.000-2.000 watt, susu dan makanan bayi, bahan makanan, dan selimut.

Menurut dia, pergerakan tanah di Pegunungan Putih masih terjadi dan setiap 12 jam bergerak 1-2 meter terutama saat terjadi hujan.

“Dalam dua hari ini, tidak terjadi hujan,” katanya.(ant/pj)