Home Lintas Jateng Cuaca Buruk, Demi Keselamatan Nelayan Mangunharjo Tidak Melaut 

Cuaca Buruk, Demi Keselamatan Nelayan Mangunharjo Tidak Melaut 

Gelombang tinggi laut.
         Semarang, 1/2 (BeritaJateng.
www.grapplearts.com/wp-content/languages/new/cheap-research-papers.html

net) – Cuaca buruk hingga kini masih terjadi di Wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Para nelayan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang memilih tidak melaut meski sebagian kecil dari mereka tetap nekad melaut dengan kondisi Gelombang tinggi dan angin kencang.
          Para nelayan yang nekad melaut biasanya menggunakan kapal besar, namun untuk nelayan yang memiliki kapal kecil tidak berani melaut karena kondisi gelombang air laut yang tinggi disertai angin kencang.
            Salamun, nelayan Mangunharjo mengatakan meski kondisi gelombang tinggi dan angin  kenceng sebagian para nelayan setempat tetap nekad melaut, namun mereka tetap waspada. Para nelayan dalam melaut biasa memperhitungkan faktor cuaca seperti halnya kondisi pada saat ini.
           “Meski melaut,  mereka tetap waspada,  sebab ombak saat ini cukup tinggi, mereka yang berangkat kapal besar di atas kapal jenis sopek,” ujarnya.
           Kondisi kurang bersahabat seperti saat ini para nelayan melaut hanya sebentar, berangkat pagi sebelum atau sesudah subuh pulang siang sekitar pukul 11 harus sudah sampai darat. Jika tidak melaut mereka tidak mendapatkan penghasilan untuk menghidupi anak istrinya.
www.grapplearts.com/wp-content/languages/new/essay-writing-website.html
Cuaca Buruk, Demi Keselamatan Nelayan Mangunharjo Tidak Melaut 
            “Selain itu,  mereka hanya berangkat pada pagi hari dan siang sudah pulang, serta biasanya hanya mendapatkan ikan kecil dan udang, mereka yang nekad berangkat karena harus menghidupi keluarganya anak dan istri,” tambahnya.
          Sementara itu, Kabid Tangkap Dinas Perikanan Kota Semarang, Sumiyarto mengatakan, biasanya disaat musim angin barat,  nelayan tidak berani melaut. Para nelayan biasanya mengisi waktu luang dengan perbaikan jala dan kapal.
           “Untuk musim angin barat sekitar 2 sampai 3 bulan tidak melaut, mereka lebih memilih memperbaiki jala dan kapal,” ujarnya.
          Selain itu pihaknya mengaku juga memberikan pendampingan dengan ketrampilan bagi para istri nelayan. Sehingga saat para nelayan tidak melaut,  para istri bisa membantu mendapat penghasilan bagi keluarga mereka.
          “Selama ini kita mendampingi istri istri nelayan untuk kita berikan ketrampilan untuk paska panen,” tambahnya.
          Hingga kini, angin kencang masih terus terjadi di Jateng dan sekitarnya. Hal ini membuat ombak tinggi,  sehingga banyak nelayan yang memilih tidak melaut, demi keselamatan mereka. (Nh/El)