Home Headline Catatan Akhir Tahun – DUKA SELIMUTI BANJARNEGARA DI PENGHUJUNG TAHUN 2014

Catatan Akhir Tahun – DUKA SELIMUTI BANJARNEGARA DI PENGHUJUNG TAHUN 2014

Desember dapat dikatakan sebagai momok bagi warga Banjarnegara, Jawa Tengah, karena dari 20 kecamatan yang ada di kabupaten itu, 12 di antaranya merupakan daerah rawan bencana longsor.

Bahkan, berdasarkan pemetaan yang dilakukan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM), Kabupaten Banjarnegara masuk dalam zona merah atau daerah paling rawan terkena bencana tanah longsor.

Mengawali Desember 2014, bencana tanah longsor pun melanda sejumlah wilayah Banjarnegara akibat hujan lebat yang terjadi pada Kamis (4/12) hingga Jumat (5/12), antara lain di Desa Sijeruk, Beji, dan Paseh, Kecamatan Banjarmangu, Desa Slapar, Kecamatan Madukara, Desa Bondolharjo, Kecamatan Punggelan, serta Desa Pagerpelah dan Slatri, Kecamatan Karangkobar Selain mengancam sejumlah rumah warga, bencana tanah longsor itu menutup beberapa akses jalan, salah satunya Jalan Raya Banjarnegara-Karangkobar, Desa Slatri, yang merupakan ruas jalan provinsi.

Selanjutnya pada Sabtu (7/12), sekitar 144 jiwa warga Dusun Pencil, Desa Karangtengah, Kecamatan Wanayasa, terpaksa harus mengungsi karena rumah mereka terancam longsor akibat gerakan tanah dari Pegunungan Putih.

Oleh karena itu, Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo menyatakan status darurat bencana dengan masa tanggap darurat sejak 8-21 Desember 2014.

Selang dua hari setelah penetapan status darurat bencana, tanah longsor kembali melanda sejumlah wilayah Banjarnegara sehingga merusak sedikitnya 54 rumah warga dan menutup beberapa akses jalan desa, kabupaten, maupun provinsi.

Bencana tanah longsor yang terjadi pada Rabu (10/12) itu mengakibatkan seorang warga Desa Sidengok, Kecamatan Pejawaran, Suheri (65) meninggal dunia akibat terkena longsoran.

Tingginya curah hujan yang mengguyur Kabupaten Banjarnegara juga mengakibatkan beberapa desa di sekitar Daerah Aliran Sungai Serayu terendam banjir.

Ketika masih disibukkan dengan penanganan bencana di beberapa wilayah, Banjarnegara kembali dikejutkan dengan bencana tanah longsor yang melanda Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar.

Bencana tanah longsor yang terjadi pada Jumat (12/12), sekitar pukul 17.30 WIB, meluluhlantakkan 35 rumah dan diperkirakan sekitar 108 warga Dusun Jemblung tertimbun material longsoran.

Jumlah tersebut belum termasuk warga luar daerah yang kebetulan sedang melintas di Jalan Raya Banjarnegara-Karangkobar yang membelah Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, maupun warga yang sedang menyaksikan bekas longsoran yang terjadi sebelumnya.

Sontak, bencana tanah longsor itupun mencuri perhatian masyarakat khususnya para relawan yang berdatangan ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan dan pertolongan.

Operasi pencarian korban longsor pun secara resmi dimulai sejak Sabtu (13/12) dengan melibatkan ratusan relawan dari berbagai organisasi “Search and Rescue” seperti Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, BPBD Jateng, Palang Merah Indonesia, TNI, dan Polri, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan.

Operasi pencarian korban longsor itu dipimpin langsung oleh Komandan Komando Distrik Militer 0704/Banjarnegara Letnan Kolonel Infanteri Edy Rachmatullah sebagai koordinator lapangan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang datang ke lokasi bencana pada Sabtu (13/12) memastikan bahwa stok bahan makanan untuk pengungsi bencana longsor Dusun Jemblung masih mencukupi.

“Sementara masih cukup tetapi harus kita antisipasi minimal bahan makanan untuk pengungsi,” katanya.

Selain itu, kata dia, tim medis juga telah disiapkan di sejumlah lokasi pengungsian untuk menangani para pengungsi.

Ia mengharapkan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dapat melakukan penanganan awal terhadap pengungsi meskipun nantinya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan memberikan dukungan.

Saat mendatangi lokasi bencana pada Minggu (14/12), Presiden Joko Widodo meminta proses evakuasi terhadap korban longsor Dusun Jemblung diselesaikan lebih dulu sebelum kegiatan yang lain.

“Yang paling penting sekarang, evakuasi dulu. Saya sudah pesan tadi, dirampungkan dulu untuk evakuasinya, kita tidak akan bicara yang lain, konsentrasi evakuasi,” kata Presiden.

Terkait dukungan sarana untuk evakuasi, Kepala Negara mengatakan bahwa hal itu akan dilakukan dengan bantuan ekskavator.

“Nanti kalau jalannya sudah didorong (material yang menutup ruas jalan, red.), sudah bisa dibuka, ekskavator masuk. Diperkirakan besok (Senin, red.) ekskavator masuk karena memang kondisinya seperti itu,” kata Presiden.

Saat ditanya mengenai batasan waktu evakuasi, Presiden mengatakan bahwa hal itu akan dilihat di lapangan.

Presiden mengakui bahwa titik-titik rawan longsor di Jawa Tengah banyak sekali.

Oleh karena saat ini musim hujan, Presiden mengimbau seluruh warga untuk berhati-hati dan waspada terutama yang berada di daerah rawan longsor.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa pihaknya mendatangkan 13 alat berat ke lokasi longsor Dusun Jemblung.

“Evakuasi yang sekarang hanya dilakukan secara manual karena belum tembus jalannya. Sembari dilakukan secara manual, kita datangkan 13 alat di antaranya ekskavator dan dozer,” katanya.

Menurut dia, alat berat tersebut akan dioperasikan dua arah, yakni dari Banjarmangu dan Karangkobar guna menyingkirkan material longsoran yang menimbun ruas jalan Banjarnegara-Karangkobar sepanjang 500 meter.

Bahkan, kata dia, di ruas jalan itu ada jembatan yang tertimbun lebih dari 10 meter.

Ia mengharapkan ruas jalan tersebut dapat dibuka dalam waktu lima hari sehingga ekskavator dapat menjangkau lokasi longsor guna mempercepat proses evakuasi.

Selama proses pembukaan jalan yang tertimbun longsor itu berlangsung, upaya pencarian korban longsor tetap dilakukan secara manual termasuk mengerahkan anjing pelacak.

Kendati demikian, proses pembukaan jalan maupun pencarian korban longsor banyak mengalami kendala salah satunya kondisi medan yang rawan longsor dan hujan lebat yang sering turun pada siang hingga sore hari.

Bahkan, saat disibukkan dengan pencarian korban longsor Dusun Jemblung, gerakan tanah yang terjadi pada hari Selasa (16/12) mengancam 557 warga Dusun slimpet, Desa Tlaga, Kecamatan Punggelan, sehingga harus diungsikan ke SDN Telaga 03.

Hingga hari terakhir pencarian korban longsor Dusun Jemblung, Minggu (21/12), sebanyak 95 jenazah berhasil ditemukan oleh tim gabungan, 64 orang di antaranya teridentifikasi sebagai warga Dusun Jemblung.

Meskipun operasi pencarian korban longsor telah berakhir, Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo memperpanjang masa tanggap darurat bencana selama 14 hari terhitung sejak 22 Desember 2014 hingga 4 Januari 2015.

Pada masa tanggap darurat tahap kedua tersebut, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara memrioritaskan penananganan pengungsi untuk secepatnya masuk hunian sementara (huntara) dengan cara menyewa rumah-rumah penduduk yang ditinggal merantau oleh pemiliknya.

Sementara itu, pada Kamis (25/12), petugas BPBD Banjarnegara bersama relawan dan masyarakat menemukan dua jenazah korban longsor Dusun Jemblung saat hendak mengangkat sebuah mobil yang tertimbun material longsoran.

Jenazah laki-laki dan perempuan itu berada di dalam mobil yang hendak diangkat itu.

Setelah dilakukan proses identifikasi, jenazah laki-laki itu diketahui bernama Aji Istanto, warga Desa Tempuran, Kecamatan Wanayasa, dan oleh keluarganya langsung dimakamkan, sedangkan jenazah perempuan tidak diketahui identitasnya sehingga dimakamkan di pemakaman massal korban longsor Dusun Jemblung.

Dengan demikian, jumlah jenazah korban longsor Dusun Jemblung yang berhasil ditemukan sebanyak 97 orang.

Terkait penanganan terhadap pengungsi, Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara Catur Subandrio mengatakan bahwa saat ini, warga yang tidak terdampak langsung bencana tanah longsor telah meninggalkan tempat-tempat pengungsian yang tersebar di beberapa titik salah satunya Kantor Kecamatan Karangkobar.

Sementara warga yang terdampak langsung bencana longsor, kata dia, saat ini telah menempati hunian sementara (huntara) berupa rumah-rumah warga yang disewa oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.

“Hanya saja, saat ini kami kesulitan mencari lahan untuk relokasi. Ada yang cocok tapi warga tidak setuju karena lokasinya terlalu jauh, ada yang dekat tetapi harganya selangit,” katanya.

Menurut dia, lahan untuk relokasi yang dinilai masyarakat terlalu jauh dari Dusun Jemblung berlokasi di Desa Karanggondang, Kecamatan Karangkobar.

Sementara untuk lahan di Karangkobar Gunung dan Desa Ambal, kata dia, masih dalam tahap negosiasi karena harganya mendadak naik melampaui nilai jual objek pajak (NJOP). (ant/BJ)