Home Lintas Jateng Catatan Akhir Tahun – Bencana Alam Masih Membayangi Wilayah Banyumas

Catatan Akhir Tahun – Bencana Alam Masih Membayangi Wilayah Banyumas

Berbagai bencana alam telah melanda sejumlah wilayah eks Keresidenan Banyumas, Jawa Tengah, yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara selama tahun 2014.

Beberapa bencana alam yang melanda sejumlah wilayah eks Keresidenan Banyumas selama tahun 2014 di antaranya gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan erupsi Gunung Slamet.

Bahkan, bencana tanah longsor dan banjir masih terus membayangi wilayah Banyumas karena Januari hingga Februari 2015 diprakirakan sebagai puncak musim hujan.

Dalam siaran persnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa sesuai pola kejadian bencana di Indonesia, pada Januari adalah puncak kejadian bencana.

Menurut dia, hal itu disebabkan lebih dari 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi, yaitu banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan lahan.

“Bencana hidrometeorologi berkorelasi positif dengan pola curah hujan. Sebagian besar wilayah Indonesia puncak hujan terjadi pada Januari,” katanya.

Ia mengatakan bahwa selama Desember-Maret, hujan akan tinggi sehingga pada bulan-bulan tersebut banyak banjir, longsor, dan puting beliung.

Menurut dia, banjir dan longsor sebenarnya adalah bencana yang dapat diminimumkan risikonya.

“Sebab kita sudah tahu kapan, dimana dan apa yang harus dilakukan. Kunci utama itu semua adalah mitigasi struktural dan nonstruktural komprehensif, penataan ruang, dan penegakan hukum,” katanya.

Terkait masih tingginya intensitas hujan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta bupati dan wali kota se-Jateng untuk siaga menghadapi bencana karena puncak musim hujan diprakirakan akan berlangsung pada bulan Januari hingga Maret.

“Kita sudah meminta para bupati dan wali kota ‘stand by’ terus-menerus, kondisi-kondisi ini (curah hujan yang meningkat, red.) untuk menjadi peringatan. Saya senang untuk Cilacap sudah ada ‘early warning’-nya (peringatan dini),” kata Ganjar di Cilacap, Minggu (28/12).

Ia mengharapkan pemerintah kabupaten/kota melakukan pendekatan secara persuasif kepada warga yang tinggal di daerah rawan bencana.

“Kalau kesadaran itu bisa muncul, top banget, karena kalau kita paksa, kita sadar kok, kalau dipaksa mesti tidak mau. Yakin saya, ‘mengko jawabane kaya kiye, biasane ora papa koh pak’ (nanti jawabannya seperti ini, biasanya tidak apa-apa kok pak, red.). Kalau jawabannya seperti itu akan bahaya,” katanya.

Akan tetapi begitu terjadi bencana alam seperti di Banjarnegara, kata dia, warga bakal menyesal seumur-umur.

Ia mengharapkan bencana tanah longsor seperti yang melanda Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, jangan sampai terjadi di daerah lain.

“Maka saya minta teman-teman bupati, wali kota, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), camat, lurah, kalau bisa memberikan pendekatan pada daerah-daerah dengan kemiringan yang ekstrem, dengan curah hujan yang tinggi. Begitu kejadian, tolong kalau bisa mengungsi, barang-barang berharga mulai sekarang dikumpulkan, siap-siap kalau perlu diungsikan atau titipkan dulu sementara,” katanya.

Tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, merupakan bencana yang sangat menonjol di wilayah eks Keresidenan Banyumas karena bencana yang terjadi pada hari Jumat, 12 Desember 2014, sekitar pukul 17.30 WIB, meluluhlantakkan 35 rumah dan diperkirakan sekitar 108 warga Dusun Jemblung tertimbun material longsoran.

Jumlah tersebut belum termasuk warga luar Dusun Jemblung yang turut tertimbun longsoran saat sedang melintas di tempat itu. Jumlah jenazah korban longsor yang ditemukan sebanyak 97 orang, 64 orang di antaranya teridentifikasi sebagai warga Dusun Jemblung.

Selain Dusun Jemblung, bencana tanah longsor juga mengancam ratusan jiwa warga Dusun Pencil, Desa Karangtengah, Kecamatan Wanayasa, dan Dusun Slimpet, Desa Tlaga, Kecamatan Punggelan, Banjarnegara, di penghujung tahun 2014.

Sementara di Kabupaten Cilacap, bencana tanah longsor juga mengancam 199 warga Dusun Cijinjing, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, sehingga mereka harus mengungsi ke tempat yang aman.

Bencana banjir juga merendam sedikitnya 13 desa di Kabupaten Cilacap pada pertengahan bulan Desember 2014 dan diprakirakan masih akan terjadi jika curah hujan kembali meningkat pada bulan Januari 2015 karena wilayah tersebut merupakan daerah cekungan.

Bencana banjir dan tanah longsor juga melanda sejumlah wilayah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga pada bulan Desember 2014.

Di samping dua bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor, warga Kabupaten Banyumas dan Purbalingga juga perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana erupsi Gunung Slamet yang masih berstatus “Siaga”.

Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, kembali mengalami peningkatan aktivitas setelah lima tahun “tertidur” sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status gunung tertinggi di Jateng itu menjadi “Waspada” pada 10 Maret 2014 pukul 21.00 WIB.

Oleh karena aktivitasnya cenderung meningkat, PVMBG pada 30 April 2014 pukul 10.00 WIB, menaikkan status Gunung Slamet menjadi “Siaga”.

Setelah 12 hari berstatus “Siaga” dan aktivitasnya cenderung turun, PVMBG pada 12 Mei 2014 pukul 16.00 WIB, menurunkan status Gunung Slamet menjadi “Waspada”.

Akan tetapi sejak 12 Agustus 2014 pukul 10.00 WIB, status Gunung Slamet kembali dinaikkan menjadi “Siaga” karena aktivitasnya cenderung meningkat.

Sejak saat itu, Gunung Slamet semakin mengeluarkan suara dentuman dan lontaran material pijar.

Bahkan, pada 17-18 September 2014, Gunung Slamet mengalami erupsi sehingga mengakibatkan terjadinya hujan abu di sejumlah wilayah Banyumas.

Kendati demikian, erupsi Gunung Slamet itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga.

Pakar vulkanologi Surono mengatakan bahwa karakter erupsi atau letusan Gunung Slamet masih tetap, yakni strombolian berupa lontaran material atau lava pijar dan abu.

“Aktivitas Gunung Slamet belum stabil. Masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak Gunung Slamet. Di luar radius tersebut dapat beraktivitas seperti biasa dan objek wisata di sekitar Gunung Slamet aman dikunjungi wisatawan,” kata Kepala Badan Geologi itu.

Hingga penghujung 2014, Gunung Slamet belum kembali “tidur” dan masih tampak mengeluarkan asap putih di puncaknya.

Ancaman bencana erupsi pun masih membayangi warga di sekitar Gunung Slamet yang berstatus “Siaga”. (Ant/BJ)