Home Lintas Jateng Cantrang Aman Dan Ramah Lingkungan

Cantrang Aman Dan Ramah Lingkungan

image

Semarang, 24/5 (Beritajateng.net)- Guna membuktikan dampak penggunaan alat tangkap ikan berupa jaring Cantrang yang penggunaannya dilarang oleh Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti melalui Permen Nomor 2 Tahun 2015, Komisi B DPRD Jawa Tengah bersama dengan Dinas Kelautan melakukan Uji Petik tahap I yang dilakukan pada 21-22 Mei kemarin. Hasilnya, penggunaan Cantrang disimpulkan aman dan ramah lingkungan.

Anggota Komisi B Riyono yang mengikuti secara langsung uji petik yang dilaksanakan di 40 mil Laut Jawa dari Pelabuhan Perikanan Tegal dan kedalaman sekitar 40-50 meter tersebut mengatakan, penggunaan alat tangkap ikan berupa Cantrang yang dikatakan oleh Menteri Susi tidak ramah lingkungan, merusak terumbu karang dan menghabiskan ikan ternyata tidak terbukti.“Kita semua sudah melihat bahwa tidak ada sedikitpun bunga karang maupun lumpur yang terbawa dalam Jaring Cantrang setelah diangkat kembali ke atas kapal. Jadi tuduhan bisa merusak lingkungan tidak terbukti,” ungkap Riyono saat dihubungi, Minggu (24/5).

Uji Petik tahap pertama yang dilaksanakan di atas kapal Terajana berbobot 30 GT dengan nomor lambung GT 30 No. 177/Gb dan diikuti oleh 12 orang tim yang berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas DKP Ir. Lalu M Syafriadi, Kepala Pelabuhan Perikanan Tegal Agus Budiyono serta Anggota Komisi B, melibatkan 12 orang anak buah kapal dengan nahkoda Washadi melakukan uji coba penggunaan Cantrang sebanyak dua kali.

Uji coba pertama dilaksanakan pada pukul 05.00 WIB, dimulai dengan menurunkan Umbul berpelampung dari sisi sebelah kanan kapal. Langkah ini diikuti dengan memutar kapal serta menurunkan jaring Cantrang dari sisi kiri kapal. Setelah kapal berputar dan menemukan umbul yang dilepas peretama kemudian menyambungkan ujung jaring dengan umbul.

Langkah berikutnya adalah menarik jaring Cantrang setelah jaring berada pada posisi tegak lurus di belakang kapal. Dengan posisi kapal berhenti, jaring Cantrang ditarik menggunakan alat tarik yang digerakkan menggunakan bantuan mesin yang disambung dengan gardan.“Kapal sama sekali tidak bergerak dan penarikan jaring Cantrang hanya melalui alat bantu Gardan. Proses mulai menurunkan umbul sampai mengangkat jaring ke atas kapal memakan waktu sekitar 45 menit,” jelas Riyono.

Dari pantauan langsung tim uji petik, setelah jaring diangkat ke atas kapal, ternyata hampir semua keheranan karena hasil tangkapan yang diperoleh hanya sebanyak 12 kilogram ikan yang terdiri dari ikan Grough, Ikan Mata Lebar (sebutan nelayan) dan beberapa ikan kecil. Hasil sebanyak ini diluar ekspektasi anggota tim uji petik.

Belum puas dengan hasil pelaksanaa uji coba pertama, tim uji petik bersama dengan ABK melakukan uji coba kedua yang berada pada jarak 20 mil dari bibir pantai. Uji coba dilaksanakan pada pukul 07.00 dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan uji coba pertama.“Perjuangan nelayan untuk mendapatkan ikan sungguh berat dan harus dihargai semua pihak. Kita semua melihat ternyata hasil tangkapan satu kali mengoperasikan Cantrang  sangat sedikit dan tidak sebanding dengan tenaga dan resiko di tengah laut,” jelasnya.

Melihat kenyataan yang diperoleh dari dua kali uji coba tersebut, Riyono mengharapkan agar Menteri Susi segera mencabut Permen No 2/2015 yang melarang penggunaan Cantrang sebagai alat tangkap ikan.“Hasil Uji Petik Tahap pertama ini menguatkan komitmen Komisi B agar Permen ini segera dicabut karena tidak sesuai dengan dalil dalil yang diungkapkan dalam pelarangan tersebut,” tegasnya.

Tidak selesai dengan data yang diperoleh dua kali uji coba penggunaan Cantrang. Pada kesempatan tersebut, tim bermaksud melakukan uji coba sekali lagi mengoperasikan Cantrang pada jarak 12 mil sesuai dengan harapan menteri Susi agar kapal berbobot 30 GT beroperasi di wilayah 12 mil dari bibir pantai.Namun setelah dicermati, pada jarak 12 mil ini terdapat banyak jaring yang dipasang oleh nelayan kecil berupa jaring Kejer (sebutan nelayan). Di wilayah tersebut juga terdapat banyak nelayan yang mencari ikan dengan menggunakan perahu kecil dengan penggerak motor tempel.

“Pada jarak 12 mil ini kapal berukursan 30 GT dan menggunakan alat Cantrang tidak mungkin bisa dioperasikan. Kalau dipaksakan pasti akan terjadi benturan dengan nelayan nelayan kecit tersebut,” ungkapnya.

Senada dengan Riyono, Kepala DKP Lalu M Syafriadi mengatakan, dari pelaksanaan uji petik tahap pertama ini pihaknya memperoleh kesimpulan bahwa kehidupan nelayan tidak mudah dan memiliki resiko yang sangat besar dalam melakukan pekerjaannya.  Hasil tangkapan sekali menurunkan Cantrang hanya sedikit dan disiasati nelayan dengan berlayar sampai memakan waktu minimal satu bulan.“Tim sudah melihat sendiri bahwa Cantrang tidak membahayakan dan ramah lingkungan. Oleh karena itu larangan bu menteri harus dicabut dan kepentingan nelayan harus dilindungi,” ungkapnya.

Lalu menambahkan, dari perbincangan dengan nelayan pada pelaksanaan uji petik tersebut, mereka mengatakan bahwa menjadi nelayan adalah pilihan hidup terakhir karena tidak memiliki keahlian di bidang lainnya. Oleh karena itu pihaknya akan melakukan kerjasama dengan pihak terkait lainnya untuk melakukan pembinaan dan pendidikan pada anak anak nelayan agar memiliki keahlian dan tidak bertumpu pada satu pekerjaan sebagai nelayan. (BJ013)