Home Ekbis Bulog Harus Andil Dala Pengendalian Inflasi

Bulog Harus Andil Dala Pengendalian Inflasi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melakukan tinjauan di gudang Bulog Semarang.

Semarang, 9/8 (BeritaJateng.net) – Pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah pada kuartal kedua tahun 2016 kembali menggeliat setelah sempat mengalami kelesuan. Pengamat ekonomi Universitas Diponegoro Prof FX Sugiyanto saat menjadi salah seorang narasumber dialog Gayeng Bareng Gubernur Jateng di salah satu studio TV ini menerangkan, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,75.

Inflasi di Jawa Tengah pun terbilang cukup baik. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah Dr Margo Yuwono SSi MSi menerangkan, per Juli 2016, inflasi hanya 1,72.

“Jawa Tengah masih cukup rendah karena (inflasi) nasional itu 1,76. Memang, yang perlu diperhatikan adalah komoditas-komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, seperti ayam, telur, dan beras,” terangnya.

Keberhasilan pengendalian inflasi itu, ungkap Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Ananda Pulungan, salah satunya karena Jawa Tengah memiliki aplikasi SiHaTi. Melalui aplikasi itu, para stakeholder dapat memantau pergerakan harga komoditas di pasar setiap saat.

“Sistem pemantauan harga itu berdasarkan harga yang disurvei setiap hari oleh teman-teman Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Kemudian dimasukkan ke dalam sistem dan itu bisa dilihat seluruh stakeholder, termasuk Ketua TPID,” jelasnya.

Dengan aplikasi SiHaTi, lanjutnya, semua komoditas yang rentan menimbulkan inflasi bisa termonitor. Jika diketahui ada komoditas yang lonjakan harganya tinggi, langsung bisa dilakukan virtual meeting sehingga pengambilan keputusan dapat segera dilakukan.

Pengendalian inflasi di Jawa Tengah juga turut dibantu Bulog. Kepala Bulog Divre Jateng Usep Karyana mengemukakan, pihaknya tidak hanya mengelola pasokan beras tapi juga memeroleh penugasan khusus untuk mengelola beberapa komoditas penyumbang inflasi.

“Saat ini Insyaa Allah selain beras, kami juga mengelola jagung, kedelai, gula, komoditas-komoditas yang menyumbang inflasi seperti bawang merah dan bawang putih. Itu sudah kami lakukan demi mengendalikan inflasi menjelang lebaran lalu,” katanya.

Usep membeberkan, salah satu cara yang dilakukan Bulog untuk mengendalikan harga adalah dengan mendirikan outlet-outlet gula pasir di pasar. Melalui outlet Bulog, harga eceran tertinggi gula pasir hanya Rp 13.000/ kg. Harapannya, bisa menstabilisasi harga pasar yang sempat mencapai Rp 18.000/ kg. Saat bawang merah mengalami kenaikan harga Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu, Bulog melakukan intervensi dengan cara membeli di tingkat petani dan pasar. Sehingga terjadi penurunan harga.

“Kalau penurunan harga berlebih, bawang merah kami kirimkan ke provinsi-provinsi lain,” ujarnya Usep.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP yang menjadi host dialog tersebut, mengapresiasi upaya Bulog dalam membantu pengendalian inflasi.

“Bulog sudah berikhtiar dengan beberapa komoditas. Dulu, Bulog itu mengelola sembilan bahan pokok. Kemudian tinggal satu (beras). Sekarang diberi penugasan-penugasan khusus (mengelola beberapa komoditas). Ini artinya Bulog dirindukan lagi lho,” tutur orang nomor satu di Jawa Tengah itu. (Bj)